Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Seni Rupa Indonesia, go internasional atau didikte pasar ?

leave a comment »

Tingkat penjualan karya sering menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pameran. Bisakah di Indonesia, pemikiran seni bertumbuh dan menjadi acuan pasar sehingga peluang go internasional terbuka lebar. Pintar siapa, seniman atau pembeli ?

Tulisan ini sekiranya dapat dibaca sebagai poin2 pemikiran yang berkaitan dengan sejumlah persoalan dalam praktik seni rupa Indonesia yang ingin go internasional terutama dalam 2-3 tahun terakhir. Wujud nyatanya, seperti  biennale dan art fair. Diplomasi kebudayaan Indonesia terlambat sekitar 20 tahun, dari negara2 lain yang aktif berdiplomasi. Karakter seni rupa Indonesia memiliki unikum spesifik sehingga kurang dieksplorasi dan diimplementasikan dalam konsep berkarya. Contoh, istilah “seni instalasi” dalam khasanah Barat berkaitan dengan konsep perspektif mandala ruang. Secara dinamis, kita bisa sebenarnya bisa memadukan konsep filsafat Barat ( misalnya  pemikiran Rudolf Stainer tentang antropometri atau psikologi Gestalt tentang ruang ) dengan konsep lokal. Perpaduan itu melahirkan integritas nilai2 lokal, dimana kita bisa menawarkan pada dunia. Peluang yang terbuka lebar era pasca modern sekarang.

Praktik seni masa ini masih terjebak dalam bingkai Barat pada pemikiran dan terminologinya. Nilai2 lokal tak jarang dinihilkan, bahkan dianggap terkebelakang. Padahal, muatan lokal sangat berharga di mata internasional. Di tengah ketidakberdayaan kita menajamkan nilai2 lokal, praktik seni rupa cenderung bersandar pada parameter pasar yang menentukan opini publik “mana karya bernilai” dan “mana yang tidak”. Situasi ini memiliki dimensi positif dan kelemahan. Parameter pasar tak jarang dipungut dari dunia maya, liputan pameran di media cetak, majalah, dsb. Jurnal seni rupa yang lebih komprehensif jarang dipakai. Jurnal “serius” tsb sempat muncul, namun kini tak terbit lagi.

Kelebihan seni rupa Indonesia

Sesungguhnya, karya2 seni rupa kontemporer kita bersaing di arena internasional. Dalam lingkup Asia, selain Cina dan India, Indonesia termasuk yang diunggulkan, dibicarakan dan sering menuai penghargaan. Bukti bahwa seni rupa kita memiliki kelebihan :

  • Seni rupa kita memiliki kekuatan estetik  yang diramu dengan muatan sosiobudaya dan politik sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dengan perjalanan sejarah nasional. Misalnya, epik Mahabarata, Ramayana, pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang seni budaya, sampai Persagi hingga Gerakan Seni Rupa Baru ( GSRB ).
  • Seni rupa Indonesia memiliki budaya lokal yang bukan memuja tradisi, tetapi cenderung kritis yang memperkaya dan membangun budaya lokal sebagai tradisi baru. Kritik berperan mendukung gerak pluralisme kebudayaan dunia ; mengapungkan terminologi seni kontemporer kita yang khas dan tidak tunduk pada konsepsi2 Barat.
  • Seni rupa kita cenderung eksploratif pada konsep seni dan budaya, lebih memandangnya sebagai “pengetahuan” ketimbang sains. Bekal kesadaran semacam ini penting untuk ditelaah lebih jauh.

Sensor dan moralitas agama

Seni rupa kita juga memiliki kekurangan. Pertama, terlampau sering penyensoran, terutama karya yang menyinggung moralitas keagamaan. Kedua, termarginalisasi oleh cara pandang seni rupa dunia. Situasi ini memposisikan kita sebagai “tokoh pinggiran” dalam percaturan seni rupa dunia. Ketiga, seni rupa kita kurang melakukan integritas dengan kebudayaan mancanegara.

Dalam pandangan Heri terkait keprofesian seni rupa kita. Pertama, etika yang berlaku cenderung didorong oleh etika pasar sehingga kekuatan pemikiran seni yang bisa menjadi ujung tombak diplomasi kebudayaan ke kancah dunia ditumpulkan oleh kita sendiri. Saatnya kini, kita terus berupaya menciptakan kekuatan yang digerakkan pelbagai keprofesian seni ; seniman, akademisi, kritikus, kurator, sejarawan seni, kolektor, art dealer, pemilik galeri, museum, dll, sebagai bagian dari medan sosial seni. Kekuatan itu membangun etika sehingga iklim yang kondusif dan sehat tercipta bagi pengembangan praktik dan wacana seni rupa kita. ( Heri Dono, seniman/ PR, 13/6/2010 ).

About these ads

Written by Nanin

22/06/2010 at 04:03

Ditulis dalam wawasan seni rupa

Tagged with

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: