Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Arsip untuk kategori ‘pameran karya

Braga Festival 2009

with 2 comments

Braga Festival 2009, bertempat di sepanjang Jalan Braga, Bandung. Dari 27-30 Desember 2009, jam 10.00-22.00. Wilujeng sumping.

Ada musik di depan prapatan Braga-Naripan ; Doel Sumbang, Mat Bitel, Tatalu Percussion, Caraka Sundanologi, Jazzmine Band, dll.

Stand BMC. Minum susu, satu dari sekian kulinari yang tersedia, setelah cuci mata di Braga.

Hasil karya pematung yang berpartisipasi. Selain demo pematung & demo pelukis, di sana digelar pula tari Bagong Kusudiardjo, Angklung Buncis, Gondang Cireundeu, Reog Ponorogo, dll. Don't miss it.

gambarlukis_wordpress_larasita

Bahkan mobil Larasita pun ada. Anda ingin mengurus problem sertifikat tanah/ rumah anda ? Di sana pun bisa.

Written by Nanin

29/12/2009 at 11:08

Ditulis dalam Bangunan bersejarah, Bangunan Tua, pameran karya

Dikaitkatakan dengan ,

Mulanya blog ini & dokumentasi gambar

leave a comment »

Ada yang bilang sukses pameran dilihat dari tingkat penjualan karya lukis yang dipamerkan. Lukisan menjadi komoditi. Sebagian kita melukis untuk menenangkan diri, melupakan sejenak kerumitan hidup atau mencari keseimbangan. Dalam hingar bingar kehidupan, kita sering ditarik ke segala arah oleh orang2 yang berkepentingan atau menggantungkan urusannya pada kita. Lebih sering mereka meminta. Sangat sedikit yang memberi/ timbal balik. Bahkan sekedar untuk bertanya, apa ia merepotkan ? Apa kita bahagia ?

Melukis adalah waktu pribadi kita untuk rileks, membahagiakan diri. Feels not to feel. Yang bagi orang lain berwujud rokok, alkohol, makanan, seks, barang bermerk, judi, narkoba, dsb. Dibandingkan candu2 tadi, melukis boleh dikatakan aman untuk diketahui publik. Asal tak melanggar UU Anti pornografi, mungkin juga UU ITE, jika dipasang di dunia maya.

Tahun demi tahun berlalu, tahu2 gambar/ lukisan yang saya buat dengan penuh perasaan sudah menumpuk. Terbit keinginan untuk naik ke level berikutnya. Pelukis yang dikenal masyarakat. Media blog bisa menjadi sarana berpameran yang murah meriah. Yang coba saya lakukan mulai Agustus 2009. Suatu malam, saya seperti mendapat ‘pencerahan’ terkait tumpukan2 gambar tsb. Yaitu, teknik mendokumentasikan gambar dari Mikke Susanto. Mungkin suatu saat berguna. Boleh saya jelaskan ?

Dokumentasi gambar & kliping

Juri, pemilik galeri, pengamat dan konsultan biasanya menonton karya yang akan dipamerkan dari foto karya dan kliping. Pembuatan kalender, kartu pos atau publikasi lain adalah tujuan ekonomisnya. Pembuatan buku, penelitian, dll, adalah tujuan historisnya. Kian lengkap dan menarik data, materi foto dan penyajiannya, maka penonton foto makin terkesan. Mintalah fotografer berpengalaman memotret lukisan untuk melakukannya, jika anda tak menguasai proses pemotretan yang baik. Atau telpon lembaga dokumentasi seni/ galeri/ museum untuk meminta rekomendasi dan bantuan pemotretan.

Beberapa petunjuk mempermudah pendokumentasian foto :

  • Potret karya ( apalagi instalasi ) sebelum dipigura sebanyak 2 – 3 kali. Untuk karya yang terlanjur dikoleksi orang, cobalah minta dipotret atau datangi pemiliknya.
  • Seleksi foto ( digital, cetak atau slide ) yang dihasilkan. Hancurkan yang tak memenuhi syarat.
  • Minta teman atau mitra mengapresiasi foto tsb. Jika ada kekurangan, pada hal apa kekurangan tsb ? Sesuaikah foto dengan citra dan tema karya aslinya ?
  • Tandai “orisinal” pada foto/ slide terbaik sebagai dokumen utama ( pribadi/ tidak dikeluarkan ). Dua- tiga foto lainnya yang cukup baik untuk keperluan dokumentasi keluar, sekaligus cadangan jika foto orisinal rusak/ hilang.
  • Data, inventarisasi, labelisasi, tempatkan pada album khusus. Labeli slide dengan nama, nomor telpon, judul, medium, ukuran, tahun, tanda panah petunjuk atas/ bawah, serta simbol copyright.
  • Buat daftar slide yang simpel namun akurat, seperti : judul, medium, ukuran, tahun dan harga. Daftar ini juga dapat dikemas menurut kategori medium karya : daftar slide lukisan, daftar slide instalasi, daftar slide karya patung.
  • Masukkan dokumentasi foto/ kliping, data, daftar ke komputer via kamera digital atau scanner untuk mempermudah akses via pos ( dikemas dalam CD-ROM ) maupun e-mail/ internet. Karya “reproduksi” juga berasal dari sini.

Dokumen tsa harus dipelihara dan dijaga dengan baik. Kondisi kantor atau studio harus mendapat tempat dan proteksi yang baik. Idealnya ruang bersuhu konstan ( ber-AC ). Lemari besi atau lemari khusus slide bisa digunakan. Gunakan wadah khusus, misalnya PVC yang berjumlah 20 buah/ lembar.

Selanjutnya, perupa mulai menyusun atau mempresentasikan portofolio pada publik ( yang dilamar/ melamar ) atau media massa untuk menggagas sebuah pameran. Portofolio adalah kemasan yang terdiri berbagai hal tentang diri perupa, termasuk :

  • resume/ biodata
  • foto karya ( cetak/ slide )
  • dokumentasi video/ CD-ROM
  • pernyataan2
  • brosur/ katalog pameran yang telah dan akan dilakukan
  • fotocopy kliping
  • undangan pameran
  • sertai portofolio dengan cover letter ( surat pembuka/ perkenalan, ucapan terima kasih, atau surat singkat yang memberitahukan tujuan pengiriman portofolio )

Setelah “lamaran” pelukis/ perupa diterima penyelenggara pameran, pemilik galeri, khalayak atau pasar seni maka tahap selanjutnya adalah pengemasan dan pengiriman dokumen.

Written by Nanin

11/12/2009 at 15:09

Ditulis dalam pameran karya

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.