Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Archive for the ‘Pelukis’ Category

Lili Melati : berkarya untuk koleksi pribadi

leave a comment »

Usia tua bukan halangan untuk mulai melukis. Dikala yang lain belajar melukis sejak balita, Lili Melati baru memulainya selepas anaknya dewasa dan berkeluarga. Wanita yang hobi masak ini sudah memberi waktu mudanya untuk keberhasilan suami dan anak-anaknya, kini Lili di hari tua leluasa menyalurkan hobinya selama menunggu suami tercinta, Sabana Prawira Widjaya, pulang bekerja. Disela kesibukannya sebagai nenek yang suka membuat makanan favorit untuk 3 anak dan 11 cucunya, serta ketua RT di lingkungan rumahnya. Warga keturunan Tionghoa yang langka, loyal dan berjiwa sosial ; dengan status yang dimilikinya Lili peduli dan mau melakukan pengabdian pada lingkungan. Bagi Lili, menjadi orang2 yang dekat dengan keluarga dan lingkungan adalah pekerjaan yang paling menyenangkan setelah melukis.

Lili ( 63 ) baru menyelesaikan lukisan berjudul “Seruling” yang akan dipamerkannya pada acara “Pameran Peduli untuk Sesama IX” yang digelar Ikatan Wanita Pelukis Indonesia ( IWPI ) Jabar, di Galeri IWPI Jabar, Jl.Teuku Umar no.6, Bandung. Rumah Lili beserta suaminya. Gedung dengan letak strategis yang ditawar orang cukup mahal untuk lahan komersial.”Akan tetapi syukur alhamdulillah, berkat kebaikan dan jiwa sosial keluarga bapak Sabana dan ibu Lili, IWPI dapat beraktivitas di sini,” ujar ketua IWPI Jabar, Nakis Bandiah Barli ( 68 tahun ).

Chinese painting, Barli dan batik.

Lukisan Lili bernuansa chinese painting yang berkolaborasi dengan berbagai aliran lain. Lebih 19 tahun ( 1990 ), perempuan kelahiran Bandung, 24/11/1947 ini mempelajari Chinese painting pada Madame Chiang Yu Thie dan Teng Mu Yen. Lili belajar dasar2 dan teknik lukisan Cina sebelum mengembangkan ekspresinya sendiri, hingga lahir puluhan karya yang apik, halus dan indah. Dua ratus lebih lukisan Lili bertumpuk di rumah, Galeri IWPI dan Galeri Gracia. ” Pokoknya, kalau sudah melukis langsung saja. Tidak bisa ditunda lagi. Teori ataupun ekspresi berjalan bersamaan dalam karya,”ujarnya.

Lili juga sempat belajar pada alm. Barli Sasmitawinata di studio Rangga Gempol, dimana ia mengenal lukisan bermedia kanvas atau kertas. Belakangan, Lili belajar batik pada Prie Ernalia yang akan ia ambil prinsip dasarnya saja yang kemudian akan ia olah dengan ciri khasnya sendiri.

Jika sudah asyik melukis, Lili suka tak kenal waktu. Bila proses kreatif muncul, ia bisa melukis sampai subuh. Tahu2 ia terkaget-kaget melihat hasil lukisannya yang sebagian besar mengandalkan alam bawah sadar. Dalam memilih warna atau mengkomposisikan bentuk, Lili sering terheran kenapa ia memilih warna ini, kenapa ia memberi sentuhan Chinese painting di bagian itu. Mengalir begitu saja. Lili banyak menggunakan media tradisional ; warna dari tepung, bebatuan dan tinta “me”.

Lili sudah menggelar puluhan kali pameran bersama, diantaranya ; “Chinese Painting with Madame Chiang Yu Thie” di Hotel Homman ( 1991 ), “Pameran Bersama Kelompok Pecinta Seni Bandung” di CCF Bandung ( 2005 ) dan “Tribut to Barli” di BSB Kota Baru Parahyangan ( 2007 ). Melukis buat saya untuk kepuasan batin. Puas meninggalkan karya untuk anak cucu. Dikenang keluarga dan keturunannya tidak hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga seorang pelukis. Itu sudah cukup, ujarnya bijak.

Namun demikian, meski ia melukis lebih untuk koleksi pribadi, ada saja peminatnya. Seperti lukisan “Cruissant” dibeli Meuthia Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan, pada “Pameran Peduli Sesama” ( 2008 ). Juga ketika orang datang menghargai dan begitu suka pada lukisannya, Lili akhirnya mau menjualnya. Soal kegiatan melukis ini, Lili yakin segala sesuatu pasti sudah ada waktunya. Bagaimana dengan anda ?


Written by Nanin

11/12/2009 at 15:03

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Salim : setia dalam pengabdian seni.

leave a comment »

Salim, pelukis yang ulet, tekun dan tangguh. Karyanya dikenal dengan warna2 yang cemerlang, bentuk yang mudah ditebak dan stilasi yang menyenangkan. Surga hijau di belahan tropis. AD.Pirous pernah dibuat terengah oleh ayunan langkah Salim yang panjang dan cepat. Ia bilang pelukis besar Fernand Leger adalah pejalan kaki andal yang bermotto “berjalan kaki selalu sebuah seni yang besar”.

Salim mengajak kita untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup itu sendiri. Salim bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, dan terbiasa dengan ruang luas yang bebas, mencipta dengan nalar terbuka. Pikiran2 itu divisualisasikan Salim dalam karyanya yang dibuat sejak tahun 1957.

Lukisan2 itu masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Warna yang redup, mantap dan kecoklatan. Garis lirisnya sangat efektif ketika melukis ruang arsitektur yang vertikal. Lukisan gereja atau mesjid yang dibuatnya terasa damai dan religius. Agak beda dari lukisan2 cemerlang, hangat nan ceria, di pameran Balai Budaya tahun 1957.

Pameran seni rupa retrospektif selalu menarik, meski tak selalu menyajikan gebrakan spektakuler. Ada segi yang membuat kita merenung, menapaki jalan panjang seorang seniman. Salim adalah pelukis senior Indonesia yang kini telah tiada. Karya2nya, menunjukkan kesetiaan dan pengabdian seni yang tak terputus. Pameran karya Salim mencitrakan kesenian yang utuh bagi generasi muda.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:57

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Mochtar Apin : seniman yang mengajar dari karyanya.

leave a comment »

Mantan pengajar Seni Murni FSRD-ITB ini seorang pribadi yang gelisah untuk mencari. Mencari kekuatan baru dalam paduan bentuk dan warna2 kuat. Menciptakan lukisan panorama bermutu tinggi. Seniman kreatif, senirupawan sejati, yang turut andil dalam dunia pendidikan seni rupa modern Indonesia. Menggambar bentuk dan model pada masanya mendapat perhatian khusus. Apin memotivasi dan mengintensifkan pelajaran menghayati proses menggambar model. Konsepnya cenderung ke gambar ekspresif ; mencari titik2 mendasar untuk menemukan ekspresi model. Yang digambar, bukan yang dilihat oleh mata.

Mochtar Apin telah berkarya sejak 1943. Perjalanan seni yang panjang. Ia dikenang sebagai guru yang memancarkan ajaran dan didikan berguna dalam karyanya bagi setiap orang.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:54

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with

G.Sidharta : seniman pembawa seni dalam keseharian

leave a comment »

Gregorius Sidharta pernah duduk berbincang dengan A.D.Pirous tentang kodrat berkesenian, hajat dan strategi kehidupan melalui seni, sampai media pilihan untuk berungkap seni. Ketika membicarakan alternatif seni rupa Indonesia masa kini, mereka lalu berdialog akrab dengan khasanah seni tradisional yang kaya sesuai getaran masing2. Lalu lahir bentuk ekspresi seni yang kaya unsur tradisi bernafaskan bahasa kini yang modern. Bukan menjiplak, tapi diilhami.

Ketika bicara melambungnya harga lukisan, di mana lukisan hanya laku untuk ditonton, tapi tidak laku untuk dijual, maka lahir gagasan mengembangkan seni grafis melalui cetak saring. Dengan harga terjangkau dan kualitas baik, seniman dapat menjual dan pecinta seni dapat membeli.

Ketika lingkungan hidup ingin diperindah, maka muncul visualisasi baru melalui motif tradisional yang kaya, yang digali dengan nafas kreatif dan pameran modern. Gaya elemen estetik baru ke arah Indonesia.

Ketika apresiasi seni dalam masyarakat tersendat, timbul ide menciptakan karya kriya tangan dalam bentuk benda pakai sehari-hari. Saat masyarakat suka benda tsb, sekaligus mereka akan suka dengan desainnya yang indah. Benda pakai yang nyeni dan indah menjadi kiat memasyarakatkan seni, di samping diskusi dan seminar2.

Sidharta, pribadi yang sangat intens, energik, kreatif, baik sebagai seniman individu maupun anggota kelompok. Seniman handal ini sosok perintis yang membawakan seni dalam kehidupan sehari-hari. Ketangkasan dan energinya terus hidup, matang dan bijaksana. Tak pernah padam.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:48

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with

Umi Dachlan : pelukis penuh renung yang menawan.

leave a comment »

Umi Dachlan, pelukis wanita yang menarik untuk disimak. Bekerja gigih dan konsisten dalam dunia seni lukis selama lebih 30 tahun. Mulai dari masa remaja kemahasiswaan, menjadi pengajar muda di akademik, semakin intensif memasuki periode pelukis yang matang, menyusul karya masa kininya yang berdialog dengan kehidupan. Kehidupan dan berkesenian, menyatu.

Umi, pribadi yang ceria, mandiri, hangat, walau sering tajam. Berada di lingkungan berkesenian dan seniman berkualitas tinggi, Umi terpacu berkarya di atas rata2. Ditarik ke 2 arah ; antara menemukan diri yang khas atau hanyut ke dalam mahzab lingkungan yang kuat. Karya2 selanjutnya semakin mantap, tenang dan menyatu.

Menurut A.D. Pirous, dalam melukis, Umi cenderung berungkap dengan bahasa visual abstrak – kontemplatif. Ia sangat tekun dan terbawa ke dalam bidang2 warna, bentuk, garis, masuk ke dunia kasat mata yang akrab, penuh renung, khusyu’, ceria atau sendu. Memperlihatkan bentuk2 yang menyeret pengalaman lain di bawah permukaannya. Unsur suprising yang menawan. Umi mampu memberikan rasa damai, semangat spiritual bernuansa meditatif, religius dan Islami. Beberapa lukisan Umi diperkaya untaian ayat suci Al-Qur’an.

Perkembangan berikutnya, lukisan Umi menjadi lebih berwarna dalam tema, teknik, estetika maupun ekspresinya. Ia lihai menempatkan tekstur di atas ketrampilan dan garapan teknis semata. Pandai mengolah bentuk kepeng menjadi unsur artistik lukisan bersuasana antikuitas yang marem, tanpa menyeretnya menjadi lukisan bernuansa Bali.

Perjalanan pameran Umi secara pribadi maupun kelompok seniman Bandung, ke luar negeri memperluas visi Umi dalam berkesenian. Ia pernah muncul dengan 5 adegan pertarungan banteng dan matador dengan komposisi beragam. Terlihat pendaman emosi yang terkoyak. Keberangan kian tampak dalam ukuran lukisan yang makin besar. Apa Umi sedang menggambarkan hidupnya, atau masyarakat Indonesia yang dilanda gejolak ?

Pelukis Umi mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk berungkap seni, nyaris sendiri, nyaris tak ada waktu untuk berbalik atau berbelok. Ia adalah berkesenian itu sendiri. Produktif dan kreatif. Pameran tunggalnya ( 19/9/1999 ) menampilkan 35 lukisan yang menyenangkan mata, sekaligus mengharukan hati.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:44

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with

Saseo Ono : pelukis Jepang, sketsa & alam terbuka

leave a comment »

Sampai saat ini masyarakat pada umumnya, terutama pelukis Indonesia belum banyak mengenal tokoh pelukis bangsa Jepang, yang pernah hadir antara tahun 1942-1946, bernama Saseo Ono ( 1906-1954 ). AD.Pirous bercerita bahwa, Ono datang ke Indonesia sebagai pelukis yang bergabung dalam tentara Jepang, ketika pendaratan pertama di Banten, Maret 1942.

Ono banyak menggambar di dinding rumah rakyat di Banten yang dilalui tentara Nippon dalam arus serbuan mereka ke Batavia ( Jakarta ). Ia menggambar tema2 propaganda persahabatan antara Nippon dan Indonesia, seperti slogan “Bersatoelah Bangsa Asia” dan “Ajia-no Ajia” ( Asia untuk bangsa Asia ). Ono seorang tentara yang pelukis, dan juga pencatat sejarah visual yang sukar tertandingi. Pada tahun 1944, buku kumpulan sketsanya diterbitkan oleh surat kabar “Djawa Shimbun”.

Ketika “Keimin Bunka Shidosho” didirikan di Jakarta pada April 1943, walaupun Ono bukan tokoh pimpinan, tetapi Ono telah memberi warna khusus dalam wujud dan rencana kegiatan organisasi ini. Layaknya pelukis aktif, Ono telah banyak mempengaruhi dan memberi wawasan baru bagi pelukis2 muda Indonesia saat itu. Ono telah memperlihatkan betapa pentingnya peran sketsa dalam proses berkiprahnya seorang pelukis.

Masa sebelumnya pelukis2 cenderung langsung melukis dalam studio, berhadapan langsung dengan kanvas. Kegiatan men-sketsa dianggap bukan kegiatan penting bagi pelukis. Ono telah menggoda kawan2 seniman Indonesia untuk banyak bekerja di luar, alam terbuka, menangkap esensi alam dan obyek secara langsung. Garis2 sketsa Ono yang lincah, jernih dan ekspresif memberi kesegaran baru dalam dunia seni lukis Indonesia di zaman Jepang.

Dorongan ini masih berlanjut dan berkembang dalam pribadi2 pelukis muda Indonesia yang sedang menemukan dirinya di sekitar awal kemerdekaan sampai masa2 berikutnya, 1941-1960. Bukan tidak mungkin seniman muda kita yang masih sangat haus akan ilmu, ketrampilan dan pengenalan teknik melukis serta bimbingan saat itu, tersirap dan terpacu oleh kehadiran pelukis Ono.

Kehangatan sketsa2 Ono sezaman dengan pelukis2 lain di Indonesia seperti : Affandi, Sindudarsono Sudjojono ( 1913-1985 ), Henk Ngantung, Otto Djaya, Dullah, Hendra Gunawan. Pengaruh sketsa Ono dapat kita rasakan berlanjut pada pelukis yang lebih muda seperti : Barli Sasmitawinata, Kusnadi, Basuki Resobowo, Sudarso, Fajar Sidik, Kerton, dan lainnya. Demikianlah, Saseo Ono secara langsung atau tidak langsung telah memberi masukan pengetahuan bagi kita, bahwa melihat alam terbuka dan kehidupan sehari-hari dengan mata segar adalah suatu hal yang penting dalam kegiatan berkesenian.

Selain Keimin Bunka Shidosho ( KBS ), sebagai badan kebudayaan yang aktif bergerak dengan dukungan seniman2 Jepang akademis, ada pula kelompok lain yang berintikan nasionalisme Indonesia yaitu “Poesat Tenaga Rakjat” ( Poetra ). Poetra didirikan oleh Bung Karno-Hatta, Ki Hadjar Dewantoro dan K.H. Mansjur, Maret tahun 1943. Seperti KBS, Poetra juga mengembangkan salah satu kegiatannya di bidang seni dan budaya. Pelukis2 yang tergabung dan memperkuat barisan Poetra di antaranya, Affandi dan Dullah.

Walaupun dalam menjalankan tugas pertahanan negara melalui seni lukis propaganda ini, antara KBS dan Poetra terdapat kecenderungan prinsip yang berlainan, tapi tidaklah tepat untuk memberi nilai satu lebih baik dari yang lainnya. KBS lebih banyak dibimbing oleh tenaga2 seniman Jepang seperti ; Saseo Ono, Yamamoto, Yashioka, di samping seniman2 Indonesia yang dipimpin bergantian oleh S.Sudjojono, R.M. Subanto Surjosubandrio ; sedangkan Poetra hampir seluruhnya didukung oleh seniman Indonesia. Ini bukan berarti Poetra lebih penting peranannya dibanding KBS. Poetra memang lebih patriotic atau nasionalis, tetapi persoalannya harus dilihat dari sudut bahwa badan2 ini merupakan wadah, tempat menggodok seniman2 Indonesia, dari aktivis muda menjadi seniman2 yang matang. Ini dibuktikan dengan peranan mereka pada masa2 perjuangan revolusi kemerdekaan yang segera muncul ( 1945-1950 ).

Sekembalinya ke Jepang pada tahun 1945, Ono masih melanjutkan kehidupannya sebagai pelukis. Dalam karya2nya Ono banyak menceritakan kehidupan malam penari2 di klub hiburan di kotanya, Jepang, seperti yang dilakukan oleh pelukis terkenal Toulouse Lautrec ( 1864-1901 ) di Perancis sebelumnya.

Pelukis Saseo Ono lebih merupakan seorang penggambar yang mempunyai kecakapan luar biasa dalam mencatat segala kejadian dan keadaan di Indonesia dengan pandangan yang tajam, yang kadang2 humanistik. Ono membuat sketsa2 dari pemandangan candi2 di Jawa, pura, pemandian dan gadis2 Bali, wayang golek, karapan sapi Madura, gadis2 Minang, wanita bertelekung sedang sembahyang, dll, di samping sketsa2 yang dibuat ketika pendaratan tentara Jepang di Jawa.

Ono juga sangat banyak mencatat secara visual, hal2 yang menurut sudut pandang dan keingintahuan seorang Jepang pada hal2 unik yang terdapat di sekitar kehidupannya, seperti cara2 orang desa mengangkat gulungan lembar besar bilik bambu, kereta sapi, becak, orang memikul tandan pisang, dan menggendong setumpuk kendi gerabah. Sementara itu, semua adegan2 unik ini semakin langka untuk dapat dilihat sehari-hari saat ini, saat zaman sudah berubah.

Di sinilah koleksi sketsa2 Ono dapat menjadi materi sejarah yang penting. Pelukis lainnya, Yamamoto, dalam salah satu karya lukisannya berjudul “Bikin Perahu” mengungkapkan perasaannya yang mendalam terhadap alam dan kehidupan rakyat di sekitarnya. Lukisannya disusun dengan komposisi yang baik, dengan sentuhan tangan yang lembut. Bandingkan pula dengan lukisan Yashioka yang menggambarkan seorang romusha yang sedang mengangkat sebuah bakul. Kecekatan menangkap dan kesempurnaan perimbangan gerak tubuh yang digambarkan meyakinkan kita kalau seniman2 Jepang ini tergolong pelukis yang baik.

Sangat mungkin, karya2 lukis seniman2 Jepang ini, melalui pameran2, telah pula memberi dorongan dan pengaruh pada seniman2 Indonesia yan sedang berkembang di sekitarnya. Salah satu yang sangat khas terlihat dalam perkembangan masa pendudukan Jepang yang singkat, adalah timbulnya kegemaran bagi pelukis2 untuk melukis di alam terbuka, dan mencatat segala sesuatu secara ekspresif. Di sinilah pengaruh penting seorang Saseo Ono.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:14

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with

Jeihan : pelukis mata hitam yang kaya & bersahaja.

with one comment

Saya tercengang ketika sebuah lukisan sederhana dihargai sampai 400 juta rupiah. Rasanya saya bisa membuatnya lebih complicated dan sophisticated dari itu. Ibu sependapat. Tapi yang sophisticated seperti yang saya maksudkan, pernah saya lihat di sebuah pameran, cuma dibandrol 750 ribu rupiah. Tak lebih. Mengapa bisa demikian ?

Lukisan, pernah saya baca di sebuah majalah, adalah jejak kehidupan si pelukis. Sangat khas, tak bisa diduplikat. Artinya, ketika melihat sebuah karya, tak cuma karya itu thok yang dilihat, kita juga melihat karakter si pelukis, keunikannya, perjuangan dan pandangan hidupnya, habitat tempat tinggalnya, dsb, menjadi sebuah paket komplit. Misalnya, pelukis Joko Pekik, membiarkan ayam2 kesayangannya berkeliaran di halaman rumah. Sebelum memasuki studionya, kita disuguhi musik gamelan dan aneka koleksinya, juga cerita2 dahulu ketika Joko disiksa oleh rezim orde baru. Atmosfer tertentu ia bangun sebelum pengunjung sampai di depan karya lukisnya.

Wah, kalau ingat artikel itu, juga bobot pengalaman hidup dan berkesenian Pak Jeihan ( 71 tahun ), bisa dimengerti kalau lukisan saya belum mencapai ratusan juta ( he3x ). Tapi, saya ingin tahu bagaimana Jeihan bisa menjadi pelukis terkaya di Indonesia. Yuk, kita simak.

Lahir di Ngampel, Boyolali, 26 September 1938. Masa kecil dan remaja didera berbagai kesulitan. Namun, Jeihan tetap mampu mengasah kepiawaiannya dalam melukis, bahkan sampai dipercaya mengajari teman-temannya melukis. Karier seni rupa dirintis dari bawah, dengan pelbagai rintangan. Setelah 7 kali pameran tunggal, baru lukisannya terjual. Sebelumnya, setiap liputan selalu ia jadi sasaran kritik. Mata hitam, ciri khasnya diejek sebagai sebagai sasaran tembak. Tapi, Jeihan tak gentar, ia tetap konsisten dengan prinsip2 temuannya.”Aku tidak takut tantangan ! Aku sengaja mengundang tantangan,” ujarnya.

Nyatanya pilihannya terus tumbuh dan berbuah sekarang. Meski demikian, Jeihan tampil tetap santai bersahaja. Siapapun yang dihadapi, dianggap manusia yang sederajat. Ucapannya spontan, matang, penuh renungan, kaya anekdot dan humor cerdas, juga mengejutkan. Ia tetap gelisah dalam pencariannya dan karenanya bertambah matang. Tidak stagnan. Ucapannya berkelebat seperti kilatan cahaya yang aktif memproduksi makna.

Di ulang tahunnya yang ke-71, 26 September 2009 kemarin, imajinasinya tetap liar. Nalarnya tetap tajam, orisinal, kontroversial, mengacau batas main2 dan serius, menawarkan alternatif untuk keluar dari kemelut peradaban berabad, kata Hikmat Gumelar. Teknik dan kemampuannya tetap berdaya melahirkan karya seni rupa dan sastra. Pelukis terkenal ini juga membidani lahirnya gerakan Puisi mBeling, menulis “Buku” tahun 1973, menerbitkan kumpulan sajak sahabatnya, Sapardi, berjudul “Dukamu Abadi”, “Kolam”, dan mendanai penerbitan ulang “Apa Kabar Hari Ini Den Satro ?”.

Pada tahun 1970-an, rumah Jeihan di Gang Masjid, Cicadas, Bandung, menjadi salah satu pusat kebudayaan Bandung. Rumah itu menyediakan satu kamar, satu mesin tik, minuman, makanan dan keleluasaan untuk berpikir, berdebat dan menulis. Mereka yang kerap berkunjung, adalah Sanento Yuliman, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Dodo Djiwapraja, Ramadhan K.H., Wing Kardjo, W.S.Rendra, Suyatna Anirun, Leon Agusta, dsb. Mereka yang berdebat sengit di rumah Jeihan ini kemudian kita kenal sebagai pesohor dalam jagad kebudayaan kita. Di sana, dalam kondisi ekonomi morat-marit itu, ide2 mengkristal menjadi Puisi mBeling. Studio Jeihan sekarang berada di Jalan Padasuka, Bandung.

Jeihan juga tetap bertanggungjawab sebagai suami dan bapak. Ia banyak membantu para seniman dan kegiatan seni, budaya, pendidikan, sosial dan agama. Jeihan membesar melebihi dirinya, berkembang menjadi lembaga yang turut memacu pertumbuhan masyarakat, budaya dan bangsa kita. Nah, anda tahu sekarang mengapa lukisan Jeihan sangat bernilai.

Written by Nanin

07/12/2009 at 16:03

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.