Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Archive for the ‘Pelukis’ Category

Lili Melati : berkarya untuk koleksi pribadi

leave a comment »

Usia tua bukan halangan untuk mulai melukis. Dikala yang lain belajar melukis sejak balita, Lili Melati baru memulainya selepas anaknya dewasa dan berkeluarga. Wanita yang hobi masak ini sudah memberi waktu mudanya untuk keberhasilan suami dan anak-anaknya, kini Lili di hari tua leluasa menyalurkan hobinya selama menunggu suami tercinta, Sabana Prawira Widjaya, pulang bekerja. Disela kesibukannya sebagai nenek yang suka membuat makanan favorit untuk 3 anak dan 11 cucunya, serta ketua RT di lingkungan rumahnya. Warga keturunan Tionghoa yang langka, loyal dan berjiwa sosial ; dengan status yang dimilikinya Lili peduli dan mau melakukan pengabdian pada lingkungan. Bagi Lili, menjadi orang2 yang dekat dengan keluarga dan lingkungan adalah pekerjaan yang paling menyenangkan setelah melukis.

Lili ( 63 ) baru menyelesaikan lukisan berjudul “Seruling” yang akan dipamerkannya pada acara “Pameran Peduli untuk Sesama IX” yang digelar Ikatan Wanita Pelukis Indonesia ( IWPI ) Jabar, di Galeri IWPI Jabar, Jl.Teuku Umar no.6, Bandung. Rumah Lili beserta suaminya. Gedung dengan letak strategis yang ditawar orang cukup mahal untuk lahan komersial.”Akan tetapi syukur alhamdulillah, berkat kebaikan dan jiwa sosial keluarga bapak Sabana dan ibu Lili, IWPI dapat beraktivitas di sini,” ujar ketua IWPI Jabar, Nakis Bandiah Barli ( 68 tahun ).

Chinese painting, Barli dan batik.

Lukisan Lili bernuansa chinese painting yang berkolaborasi dengan berbagai aliran lain. Lebih 19 tahun ( 1990 ), perempuan kelahiran Bandung, 24/11/1947 ini mempelajari Chinese painting pada Madame Chiang Yu Thie dan Teng Mu Yen. Lili belajar dasar2 dan teknik lukisan Cina sebelum mengembangkan ekspresinya sendiri, hingga lahir puluhan karya yang apik, halus dan indah. Dua ratus lebih lukisan Lili bertumpuk di rumah, Galeri IWPI dan Galeri Gracia. ” Pokoknya, kalau sudah melukis langsung saja. Tidak bisa ditunda lagi. Teori ataupun ekspresi berjalan bersamaan dalam karya,”ujarnya.

Lili juga sempat belajar pada alm. Barli Sasmitawinata di studio Rangga Gempol, dimana ia mengenal lukisan bermedia kanvas atau kertas. Belakangan, Lili belajar batik pada Prie Ernalia yang akan ia ambil prinsip dasarnya saja yang kemudian akan ia olah dengan ciri khasnya sendiri.

Jika sudah asyik melukis, Lili suka tak kenal waktu. Bila proses kreatif muncul, ia bisa melukis sampai subuh. Tahu2 ia terkaget-kaget melihat hasil lukisannya yang sebagian besar mengandalkan alam bawah sadar. Dalam memilih warna atau mengkomposisikan bentuk, Lili sering terheran kenapa ia memilih warna ini, kenapa ia memberi sentuhan Chinese painting di bagian itu. Mengalir begitu saja. Lili banyak menggunakan media tradisional ; warna dari tepung, bebatuan dan tinta “me”.

Lili sudah menggelar puluhan kali pameran bersama, diantaranya ; “Chinese Painting with Madame Chiang Yu Thie” di Hotel Homman ( 1991 ), “Pameran Bersama Kelompok Pecinta Seni Bandung” di CCF Bandung ( 2005 ) dan “Tribut to Barli” di BSB Kota Baru Parahyangan ( 2007 ). Melukis buat saya untuk kepuasan batin. Puas meninggalkan karya untuk anak cucu. Dikenang keluarga dan keturunannya tidak hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga seorang pelukis. Itu sudah cukup, ujarnya bijak.

Namun demikian, meski ia melukis lebih untuk koleksi pribadi, ada saja peminatnya. Seperti lukisan “Cruissant” dibeli Meuthia Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan, pada “Pameran Peduli Sesama” ( 2008 ). Juga ketika orang datang menghargai dan begitu suka pada lukisannya, Lili akhirnya mau menjualnya. Soal kegiatan melukis ini, Lili yakin segala sesuatu pasti sudah ada waktunya. Bagaimana dengan anda ?


Written by Nanin

11/12/2009 at 15:03

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Salim : setia dalam pengabdian seni.

leave a comment »

Salim, pelukis yang ulet, tekun dan tangguh. Karyanya dikenal dengan warna2 yang cemerlang, bentuk yang mudah ditebak dan stilasi yang menyenangkan. Surga hijau di belahan tropis. AD.Pirous pernah dibuat terengah oleh ayunan langkah Salim yang panjang dan cepat. Ia bilang pelukis besar Fernand Leger adalah pejalan kaki andal yang bermotto “berjalan kaki selalu sebuah seni yang besar”.

Salim mengajak kita untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup itu sendiri. Salim bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, dan terbiasa dengan ruang luas yang bebas, mencipta dengan nalar terbuka. Pikiran2 itu divisualisasikan Salim dalam karyanya yang dibuat sejak tahun 1957.

Lukisan2 itu masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Warna yang redup, mantap dan kecoklatan. Garis lirisnya sangat efektif ketika melukis ruang arsitektur yang vertikal. Lukisan gereja atau mesjid yang dibuatnya terasa damai dan religius. Agak beda dari lukisan2 cemerlang, hangat nan ceria, di pameran Balai Budaya tahun 1957.

Pameran seni rupa retrospektif selalu menarik, meski tak selalu menyajikan gebrakan spektakuler. Ada segi yang membuat kita merenung, menapaki jalan panjang seorang seniman. Salim adalah pelukis senior Indonesia yang kini telah tiada. Karya2nya, menunjukkan kesetiaan dan pengabdian seni yang tak terputus. Pameran karya Salim mencitrakan kesenian yang utuh bagi generasi muda.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:57

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Mochtar Apin : seniman yang mengajar dari karyanya.

leave a comment »

Mantan pengajar Seni Murni FSRD-ITB ini seorang pribadi yang gelisah untuk mencari. Mencari kekuatan baru dalam paduan bentuk dan warna2 kuat. Menciptakan lukisan panorama bermutu tinggi. Seniman kreatif, senirupawan sejati, yang turut andil dalam dunia pendidikan seni rupa modern Indonesia. Menggambar bentuk dan model pada masanya mendapat perhatian khusus. Apin memotivasi dan mengintensifkan pelajaran menghayati proses menggambar model. Konsepnya cenderung ke gambar ekspresif ; mencari titik2 mendasar untuk menemukan ekspresi model. Yang digambar, bukan yang dilihat oleh mata.

Mochtar Apin telah berkarya sejak 1943. Perjalanan seni yang panjang. Ia dikenang sebagai guru yang memancarkan ajaran dan didikan berguna dalam karyanya bagi setiap orang.

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:54

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.