Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Posts Tagged ‘Jawa Barat

Desa Cipacing : perajin benda seni, koperasi & ekspor ke mancanegara.

leave a comment »

Mewarnai didgeridoo, alat musik tradisional suku Aborigin, Australia. Siapa sangka bisa jadi lahan nafkah & peluang ekspor bagi warga desa Cipacing. Benda seni murah meriah di Bali sebagian dari sini.

Bagi sebagian orang, didgeridoo tentu terdengar asing. Bahkan mungkin banyak yang belum pernah melihat, apalagi mengenal alat musik tiup milik suku Aborigin ini. Namun, bagi sebagian warga Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, didgeridoo adalah tumpuan harapan mereka. Toni misalnya, ia sudah menekuni usaha pembuatan didgeridoo sejak 1996. Awalnya, hanya  memenuhi pesanan saudaranya yang berdomisili di Bali. Di luar dugaan, pesanan alat musik khas suku pribumi Australia itu terus mengalir. Ia pun memutuskan menekuni usaha ini dengan serius.

Hasilnya berbuah manis. Saat Indonesia dilanda krisis moneter, Toni justru sedang mengalami masa kejayaan.”Bahkan, sempat memproduksi 30.000 unit didgeridoo dalam satu tahun,”katanya. Awalnya Toni membuat didgeridoo secara manual. Sebuah pohon suren ia belah menjadi 2 bagian, kemudian dipahat. Batang yang sudah dibelah itu ia ikat lalu diberi perekat untuk menyatukannya. Baru tahun 2000, ia menggunakan mesin untuk mempercepat produksi. Kalau masih manual, dalam satu hari saya Cuma menyelesaikan 5 didgeridoo. Sekarang, dalam satu hari bisa 50 didgeridoo.

Sayang, berlipatnya hasil produksi tidak diimbangi dengan kenaikan omzet. Kian banyaknya perajin membuat persaingan makin ketat. Saat ini, setiap bulan ia hanya mendapat pesanan 500 didgeridoo atau 6000 unit per tahun untuk diekspor ke Australia melalui Bali. Bukan hanya volume penjualan yang merosot, ia pun terpaksa menurunkan harga jual dari Rp.90.000,- menjadi Rp.30.000,- per unit.  Yang mahal berkisar ratusan ribu rupiah. Perajinnya sudah banyak, tidak saja di Bandung. Yogyakarta dan kota2 lain juga sudah ada. Di Cipacing sendiri 6 perajin. Sekarang, omzetnya cuma Rp. 4 juta sebulan. Belum dipotong gaji pekerja, Rp.5000,- per unit didgeridoo.

Dengan kondisi ini, menurut dia, sulit mengembangkan usaha. Apalagi sektor permodalan masih menjadi kendala. Bantuan pemerintah untuk kredit usaha kecil yang selama ini digembar-gemborkan melalui media massa hanya sebatas melintas di telinga.”Saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Tidak perlu langsung kucuran uang tunai, dengan didirikan koperasi di sini saja sudah membantu. Paling tidak saya bisa meminjam uang untuk tambahan modal dengan bunga ringan,” ujarnya. ( Rika Rachmawati, Guntur Kusuma Ardhy/ PR, 7/4/2010  )

Analisis :

Cipacing banyak memiliki potensi sumber daya manusia yang terampil membuat benda2 seni. Tak hanya benda seni tradisional lokal Jawa Barat atau provinsi di luar Jawa Barat, tetapi juga negara lain. Jajaran toko sepanjang jalan Cipacing, menjadi strategi pemasaran langsung kreativitas mereka. Meskipun omzet menurun terimbas berkurangnya kunjungan wisatawan luar negeri, perajin tetap berusaha mencari peluang ekspor melalui daerah lain seperti Bali.

Berperan sebagai produsen benda seni khas negara lain, Pak Toni memiliki keuntungan dengan adanya captive market yang sudah tersedia. Walau terbatas dalam segmentasi pasar ( yang menggunakan hanya komunitas tertentu ), mungkin Pak Toni bisa memperluas pangsa pasar, seperti membuat miniatur atau replika didgeridoo yang berfungsi sebagai pajangan.

Harapan Pak Toni akan adanya koperasi untuk mengatasi masalah umum perajin atau pengusaha kecil sekitar Cipacing bisa direalisasikan. Melebihi 20 orang ( perajin dan pengusaha ) sudah memungkinkan untuk membentuknya. Koperasi sejati mampu mengatasi permasalahan anggotanya, karena koperasi merupakan wahana kerjasama para anggotanya. Tujuan utama koperasi menyejahterakan anggotanya. Perhatian pemerintah terhadap koperasi dan usaha kecil menengah sangatlah besar, yang direalisasikan dalam berbagai program. Mari berkoperasi yang sejati. ( Ami Purnamawati, Kepala Pusat Pemberdayaan Perempuan LPPM-Ikopin ).

Written by Nanin

08/04/2010 at 11:54

Ditulis dalam Kerajinan, seni tradisi

Tagged with , ,

Klastic : komunitas fotografi yang kreatif dengan tustel plastik.

leave a comment »

Gedung LB. Antara, Jl. Braga, Bandung, hasil karya anggota Klastic. Tak kalah dengan dengan pengguna kamera canggih.

Klastic : singkatan dari Kaskus Plastic & Toy Camera Community. Berdiri 7 Desember 2008. Digagas orang2 yang intens berkomunikasi di situs Kaskus. Mengkristal menjadi komunitas penggemar fotografi. Regional Klastic Bandung, diketuai Donny Pandega ( hp : 08561072247 ), wakilnya Razky ( hp : 085710059649 ). Sekretariatnya di Jl. Kubang Selatan V no.3 Bandung. Jumlah anggota yang tercatat 100 orang lebih, yang aktif 40 orang. Mereka bertemu di Taman Ganesha Bandung 2 bulan sekali. Kegiatannya : hunting foto, kumpul2, ikut pameran, sharing fotografi di internet. Ke depan, Klastic ingin mengadakan pameran foto bersama, yang memajang foto2 karya anggota dan membahasnya, sehingga pembuat karya dapat menakar karyanya masing2. Klastic juga ingin memperluas jejaring dengan organisasi serupa, melebihi hubungan biasa yang terjalin selama ini.

Anggota Klastic ; 70 % adalah mahasiswa, sisanya karyawan dan pelajar yang berusia 16-40 tahunan, laki dan perempuan. Klastic juga terdapat di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Lampung, Padang, Kalimantan dan Banjarmasin. Keunikan komunitas ini dalam berkarya hanya menggunakan kamera berbahan dasar plastik ( tustel ). Kamera dengan sistem operasional sederhana ; memakai film, baterai dan cuci cetak foto. Yang penting di Klastic adalah bagaimana orang menggunakan kamera standar ini menjadi karya berkualitas. Benar2 menggali kreativitas. Eksperimental. Kekurangan harus menjadi kelebihan. Meski kamera yang digunakan adalah tustel biasa, bahkan mainan, anggota Klastic tidak pernah minder. Mereka terbiasa ikut hunting bersama pemotret2 lain dari komunitas kamera canggih. Anggota Klastic selalu percaya diri mengikuti lomba secara terbuka. Bahkan memenangi ajang lomba foto yang diikuti peserta kamera canggih, seperti anggota Klastic dari Yogyakarta.

Here they are, ladies & gentlemen... members of Klastic in their first hunting. Cute, isn't ?

Klastic punya tradisi kritik karya di dunia maya. Anggota mengirim hasil jepretannya ke pengelola web, lalu dipublikasikan ke anggota komunitas. Pemotret memaparkan karyanya dalam tulisan, jenis kamera yang digunakan, lokasi dan waktu pemotretan, judul, proses cuci cetak film, sampai menjadi karya. Dari paparan ini publik menjadi proses2 yang dilakukan dan belajar dari pengalaman orang lain. Bagi anggota Klastic, kecacatan kamera no problem, asal masih bisa dioperasikan dan digunakan. Kalau pun tidak, hampir semua anggota Klastic Regional Bandung tahu tempat2 reparasi kamera yang andal. Di Jalan ABC, Bandung, berjejer dokter2 kamera manual ( tustel ) yang dapat menyembuhkan segala masalah handset kamera. Anda pun bisa mencoba segala jenis kamera dan pernak perniknya, termasuk lensa. Hanya, pandai2-lah memilih dokter reparasi kamera yang andal. Atau anda bergabung ke Klastic untuk tahu jurus2-nya. Di komunitas ini, anda bisa belajar mencuci cetak foto dengan air deterjen, kopi, teh atau bir. Menggores film atau menyelotip kamera untuk memberi efek karakter pada foto. Mini dengan hasil maksi.

Tidak ada istilah kamera rusak. Untuk cuci cetak dan peralatan, anggota Klastic mempercayakan pada studio foto di Jl.Wastukancana, Bandung, di mana semua eksperimen gila mereka diolah menjadi foto. Sharing pengalaman antara pemotret yang memproses fotonya di situ dan pengelola studio acap kali terjadi. Ada pula, anggota Klastic yang kerap ke luar negeri untuk membawa segala kebutuhan fotografi ; kamera, film dan piranti lainnya. Ada beberapa jenis kamera yang filmnya terbilang langka dijual di Indonesia, sehingga perlu berbagi informasi di internet. Di even “Braga Festival” tahun 2009 kemarin, Eriyanti bertemu komunitas Klastic yang berpameran di Gedung YPK, Jl. Naripan. Anda akan terkagum-kagum melihat film hitam putih dan warna yang mereka tampilkan dengan karakter berbeda. Foto berbicara dan merebut perhatian pengunjung.

Written by Nanin

05/01/2010 at 15:52

Ditulis dalam komunitas

Tagged with ,

Gedung Bank Indonesia di Jl.Braga, Bandung

leave a comment »

Written by Nanin

23/12/2009 at 14:25

Centre Point di Jl.Braga, Bandung

leave a comment »

Written by Nanin

23/12/2009 at 14:16

Jeihan : pelukis mata hitam yang kaya & bersahaja.

with one comment

Saya tercengang ketika sebuah lukisan sederhana dihargai sampai 400 juta rupiah. Rasanya saya bisa membuatnya lebih complicated dan sophisticated dari itu. Ibu sependapat. Tapi yang sophisticated seperti yang saya maksudkan, pernah saya lihat di sebuah pameran, cuma dibandrol 750 ribu rupiah. Tak lebih. Mengapa bisa demikian ?

Lukisan, pernah saya baca di sebuah majalah, adalah jejak kehidupan si pelukis. Sangat khas, tak bisa diduplikat. Artinya, ketika melihat sebuah karya, tak cuma karya itu thok yang dilihat, kita juga melihat karakter si pelukis, keunikannya, perjuangan dan pandangan hidupnya, habitat tempat tinggalnya, dsb, menjadi sebuah paket komplit. Misalnya, pelukis Joko Pekik, membiarkan ayam2 kesayangannya berkeliaran di halaman rumah. Sebelum memasuki studionya, kita disuguhi musik gamelan dan aneka koleksinya, juga cerita2 dahulu ketika Joko disiksa oleh rezim orde baru. Atmosfer tertentu ia bangun sebelum pengunjung sampai di depan karya lukisnya.

Wah, kalau ingat artikel itu, juga bobot pengalaman hidup dan berkesenian Pak Jeihan ( 71 tahun ), bisa dimengerti kalau lukisan saya belum mencapai ratusan juta ( he3x ). Tapi, saya ingin tahu bagaimana Jeihan bisa menjadi pelukis terkaya di Indonesia. Yuk, kita simak.

Lahir di Ngampel, Boyolali, 26 September 1938. Masa kecil dan remaja didera berbagai kesulitan. Namun, Jeihan tetap mampu mengasah kepiawaiannya dalam melukis, bahkan sampai dipercaya mengajari teman-temannya melukis. Karier seni rupa dirintis dari bawah, dengan pelbagai rintangan. Setelah 7 kali pameran tunggal, baru lukisannya terjual. Sebelumnya, setiap liputan selalu ia jadi sasaran kritik. Mata hitam, ciri khasnya diejek sebagai sebagai sasaran tembak. Tapi, Jeihan tak gentar, ia tetap konsisten dengan prinsip2 temuannya.”Aku tidak takut tantangan ! Aku sengaja mengundang tantangan,” ujarnya.

Nyatanya pilihannya terus tumbuh dan berbuah sekarang. Meski demikian, Jeihan tampil tetap santai bersahaja. Siapapun yang dihadapi, dianggap manusia yang sederajat. Ucapannya spontan, matang, penuh renungan, kaya anekdot dan humor cerdas, juga mengejutkan. Ia tetap gelisah dalam pencariannya dan karenanya bertambah matang. Tidak stagnan. Ucapannya berkelebat seperti kilatan cahaya yang aktif memproduksi makna.

Di ulang tahunnya yang ke-71, 26 September 2009 kemarin, imajinasinya tetap liar. Nalarnya tetap tajam, orisinal, kontroversial, mengacau batas main2 dan serius, menawarkan alternatif untuk keluar dari kemelut peradaban berabad, kata Hikmat Gumelar. Teknik dan kemampuannya tetap berdaya melahirkan karya seni rupa dan sastra. Pelukis terkenal ini juga membidani lahirnya gerakan Puisi mBeling, menulis “Buku” tahun 1973, menerbitkan kumpulan sajak sahabatnya, Sapardi, berjudul “Dukamu Abadi”, “Kolam”, dan mendanai penerbitan ulang “Apa Kabar Hari Ini Den Satro ?”.

Pada tahun 1970-an, rumah Jeihan di Gang Masjid, Cicadas, Bandung, menjadi salah satu pusat kebudayaan Bandung. Rumah itu menyediakan satu kamar, satu mesin tik, minuman, makanan dan keleluasaan untuk berpikir, berdebat dan menulis. Mereka yang kerap berkunjung, adalah Sanento Yuliman, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Dodo Djiwapraja, Ramadhan K.H., Wing Kardjo, W.S.Rendra, Suyatna Anirun, Leon Agusta, dsb. Mereka yang berdebat sengit di rumah Jeihan ini kemudian kita kenal sebagai pesohor dalam jagad kebudayaan kita. Di sana, dalam kondisi ekonomi morat-marit itu, ide2 mengkristal menjadi Puisi mBeling. Studio Jeihan sekarang berada di Jalan Padasuka, Bandung.

Jeihan juga tetap bertanggungjawab sebagai suami dan bapak. Ia banyak membantu para seniman dan kegiatan seni, budaya, pendidikan, sosial dan agama. Jeihan membesar melebihi dirinya, berkembang menjadi lembaga yang turut memacu pertumbuhan masyarakat, budaya dan bangsa kita. Nah, anda tahu sekarang mengapa lukisan Jeihan sangat bernilai.

Written by Nanin

07/12/2009 at 16:03

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Toko Populair di Jl.Braga, Bandung

with 2 comments

gambarlukiswordpress_105

Foto 105 : "Toko antik"

Written by Nanin

07/12/2009 at 15:57

Bursa lukisan di Jl.Braga, Bandung

with one comment

gambarlukiswordpress_104

Foto 104 : "Sepanjang jalan lukisan"

Written by Nanin

07/12/2009 at 15:52

Ditulis dalam Jalan/ infrastruktur

Tagged with ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.