Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Lomba foto bangunan bersejarah BI, tenggat 3 Sept 2010

leave a comment »

Gedung antik dengan gaya istana ( empirestyle ) di Jl.Asia Afrika 61, Bandung. Seneng foto2 bangunan kuno ? Ayo, ikutan lomba ( lagi ) ..

LOMBA FOTO HERITAGE BANGUNAN BERSEJARAH/CAGAR BUDAYA

Dalam rangka acara pencanangan pelestarian dan pemanfaatan heritage. Bank Indonesia, panitia menyelenggarakan Lomba Foto Heritage Bangunan Bersejarah/Cagar Budaya sebagai berikut:

1.     Tema foto : Pelestarian heritage refleksi kepedulian terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian serta pengelolaan heritage di Indonesia sudah mulai tumbuh dan berkembang dengan baik tiada terkecuali berupa bangunan-bangunan bersejarah/cagar budaya baik milik Bank Indonesia, Pemerintah maupun masyarakat yang tersebar di seluruh Nusantara.

Oleh karena itu, foto diharapkan dapat merefleksikan keanggunan karya bangunan bersejarah/cagar budaya yang adi luhur sebagai kekuatan pendorong untuk meniti ke masa depan. Lebih diapresiasi foto yang dapat menampilkan bangunan bersejarah/cagar budaya secara lengkap (bukan detail struktur) termasuk suasana yang melingkupinya, sehingga corak kekhasan terpancar dari karya bangunan tersebut.

2.     Hadiah :

a.     1 Pemenang Juara I sebesar Rp.10.000.000 (sepuluh juta Rupiah)

b.     1 Pemenang Juara II sebesar Rp.7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu Rupiah)

c.     1 Pemenang Juara III sebesar Rp.5.000.000 (lima juta Rupiah)

d.     3 Pemenang Juara Harapan masing-masing sebesar Rp.1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu Rupiah)

e.     5 pemenang Juara Foto Favorit pilihan pengunjung di Surabaya masing-masing sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta Rupiah)

3.     Dewan Juri :

-         Miranda S. Goeltom                    (Pemerhati heritage)

-         Arbain Rambey                            (wartawan senior Kompas)

-         Goenadi Haryanto                       (fotografer senior)

-         Oscar Motuloh                              (KBN Antara)

-         Widarmanto                                  (USF-IPEBI)

4.     Kriteria Lomba :

a.     Lomba terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya ( gratis)

b.     Obyek photo adalah heritage bangunan bersejarah/Cagar Budaya sebagaimana daftar terlampir. Obyek foto diharapkan tampak semaksimal mungkin dan pemotretan wajib dilakukan dalam tahun 2010.

c.     Setiap peserta dapat menyerahkan foto cetak warna atau hitam putih hasil karya sendiri maksimal 5 lembar foto dengan obyek foto yang berlainan, dengan ukuran cetak sisi terpanjang maksimal 30 cm beserta file hires atau negatif film. Foto belum pernah memenangkan berbagai kegiatan lomba foto sebelumnya.

d.     Pada sisi belakang setiap foto agar ditempelkan kertas dengan informasi sebagai berikut :

-          judul foto

-          lokasi

-          tanggal pemotretan

-          nama peserta dan nomor identitas (KTP/SIM)

-          nomor telp dan/atau HP

-          alamat email (jika ada)

e.     Olah digital sewajarnya diperbolehkan, namun bukan merupakan penggabungan foto dan/atau HDR (High Dynamic Range).

f.      Foto yang dikirimkan tidak diperkenankan mengandung unsur provokatif, pornografi dan SARA. Panitia berhak untuk mendiskualifikasikan foto yang dianggap mengandung unsur-unsur tersebut.

g.     Peserta bertanggung jawab terhadap adanya tuntutan pihak lain atas penggunaan fasilitas, lokasi, model, dan obyek lainnya dalam foto yang dikirimkan.

h.     Lembar foto berwarna/hitam putih beserta file highres diterima paling lambat tanggal 3 September 2010 pukul 13.00 WIB di sekretariat panitia dengan alamat :

Unit Khusus Museum Bank Indonesia

KOPERBI Gedung D Lantai 1

Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta Pusat 10350 Telp.021-3818731 Faks.021-3864935

Cantumkan tulisan ”LOMBA FOTO HERITAGE BANGUNAN SEJARAH/CAGAR BUDAYA” pada pojok kiri atas amplop pengiriman.

i.      Informasi lomba foto lebih lanjut, hubungi Sdr. Fadhil Nugroho HP.0818899150, Sdr. Adi Purwantoro Telp. 021.3818731, Sdr. Jefri Prihartanto / Sdri. Puji Astuti HP. 081389016787 hari Senin s.d. Jumat pukul 08.00 s.d. 15.30 WIB.

j.      Pemenang akan diumumkan pada acara Pencanangan Pelestarian dan Pemanfaatan Heritage Bank Indonesia di Surabaya tanggal 26 September 2010 dan di muat di website Bank Indonesia http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/ tanggal 27 September 2010.

k.     Hadiah sudah termasuk kompensasi atas penggunaan foto-foto pemenang apabila foto tersebut digunakan untuk kepentingan Bank Indonesia. Panitia memiliki hak publikasi foto pemenang untuk kegiatan pameran dan sosialisasi Bank Indonesia lainnya dengan mencantumkan sumber foto (hak cipta tetap pada fotografer). Dengan mengikuti lomba foto ini, peserta telah memahami dan menyetujui segala hak dan kewajibannya.

l.      Panitia tidak mengembalikan foto yang telah dikirimkan dan dilombakan.

m.    Pajak hadiah ditanggung oleh Bank Indonesia.

n.     Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

PANITIA LOMBA FOTO

Written by Nanin

28/08/2010 at 11:41

Ditulis dalam Bangunan bersejarah, fotografi

Dikaitkatakan dengan ,

Fenomena lukisan sebagai media terapi ( art therapy ) di rumah sakit.

leave a comment »

Wajah anak yang inosen memang menggemaskan. Tjutju Widjaja mengangkatnya sebagai tema karya-karyanya. Bisa menenangkan pasien dan keluarga yang terkena musibah. Ide brilian..

Kehidupan masyarakat perkotaan yang sering terkena stres berkepanjangan, tak lagi sekedar memerlukan ruang pengobatan  yang bersifat medis   kimiawi. Banyak yang mencoba terapi seni ( art therapy ). Salah satunya, Ny Giok ( 62 ). Perempuan ini tengah duduk di sudut ruang tunggu ICU Gedung Alkema RS Immanuel, Bandung. Meski suaminya sedang dirawat intensif di ruang ICU, ia mengaku menjadi lebih rileks saat melihat lukisan2 yang  terpampang di ruang tunggu.

Susi ( 35 ), penderita tifus mengaku lebih mendapat spirit melihat gambar2 tersebut,”Mungkin karena saya memang suka seni. Jadi, ketika melihat lukisan2 itu, senang sekali rasanya. Ada perasaan tenang, damai, dan tidak mau tergesa-gesa. Mungkin karena suasananya jadi berubah setelah ada lukisan,”ujarnya. Apa yang disampaikan para pasien itu tentu menjadi alasan mengapa para konseptor ( perancang ) gedung berlantai 8 itu merasa perlu menyimpan lukisan hampir di setiap dinding. Selain memberi warna pada dinding yang putih melompong, juga sebagai terapi penyembuhan.

Daripada dingin melompong, mending homy warna warni.

Anna, Kepala Bidang Keperawatan sekaligus Panitia Penataan Gedung Alkema RS Immanuel, Bandung, mengatakan, tujuan memajang lukisan di ruang perawatan adalah untuk memberi kesan baru terhadap rumah sakit agar tidak terlalu “dingin”, putih dan seram. Selain ingin memberi kesan homy agar suasana tegang saat proses pelayanan tak begitu terasa, namun lebih cair dan rileks.

Saat ini, sedang terjadi pergeseran desain tata ruang di sejumlah tempat pelayanan publik di Kota Bandung, khususnya beberapa rumah sakit yang sering terkesan menyeramkan. Pergeseran dari segi furniture dan aksesori yang mendukung, seperti memajang lukisan2, sebagai media terapi bagi pasien atau keluarga pasien yang sedang tertimpa musibah.

Tjutju Widjaja yang sengaja memajang karya lukisnya di rumah sakit, mengatakan, berpameran di rumah sakit dapat terlihat bagaimana fungsi lukisan terhadap kehidupan.”Kalau kita berpameran di tempat biasa, itu lumrah. Tetapi di tempat begini, semoga saya bisa memberi dorongan semangat terhadap kondisi psikologis orang yang sedang menderita. Siapa pun yang masuk rumah sakit kan sedang diuji,”ujarnya.

Narkoba disembuhkan dengan zikir dan seni.

Mengomentari fenomena yang berkembang di masyarakat ini, pelukis yang juga penyair, Acep Zamzam Noor mengatakan, seni memang bisa menjadi terapi bagi penyakit yang berhubungan dengan fisik atau kejiwaan. Semua jenis seni bisa menjadi terapi, tetapi tidak berlaku bagi semua orang. Seni akan efektif menjadi terapi kalau orang yang diterapi mempunyai ketertarikan, yang kemudian membuatnya terlibat dengan seni itu. Terapi dalam konteks ini adalah semacam mengalihkan perhatian sehingga orang yang diterapi tersebut merasa asyik dan masuk, yang kemudian melahirkan energi baru.

Acep membandingkan dengan terapi zikir bagi orang yang ketergantungan narkoba. Orang tersebut dibuat asyik dengan zikir sehingga lambat laun ketergantungannya beralih. Narkoba dan zikir sama2 bikin asyik masyuk dan membuat mabuk orang yang melakukannya.”Saya pikir seni pun fungsinya sebagai terapi tak jauh dengan itu,”ucapnya. Misalnya, seni lukis. Seni yang menggunakan media cat, aklirik, dll, banyak digunakan sebagai media terapi. Seni lukis seperti juga seni lainnya, mempunyai daya sedot yang membuat orang asyik masyuk. Keasyikan inilah, sebenarnya inti dari terapi. Jadi, kalau orang belum asyik dengan seni tertentu, tidak akan efektif sebagai terapi. ( Eriyanti/PR, 20/6/2010 ).

Written by Nanin

07/07/2010 at 21:34

Ditulis dalam Lukisan

Dikaitkatakan dengan ,

Seni Rupa Indonesia, go internasional atau didikte pasar ?

leave a comment »

Tingkat penjualan karya sering menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pameran. Bisakah di Indonesia, pemikiran seni bertumbuh dan menjadi acuan pasar sehingga peluang go internasional terbuka lebar. Pintar siapa, seniman atau pembeli ?

Tulisan ini sekiranya dapat dibaca sebagai poin2 pemikiran yang berkaitan dengan sejumlah persoalan dalam praktik seni rupa Indonesia yang ingin go internasional terutama dalam 2-3 tahun terakhir. Wujud nyatanya, seperti  biennale dan art fair. Diplomasi kebudayaan Indonesia terlambat sekitar 20 tahun, dari negara2 lain yang aktif berdiplomasi. Karakter seni rupa Indonesia memiliki unikum spesifik sehingga kurang dieksplorasi dan diimplementasikan dalam konsep berkarya. Contoh, istilah “seni instalasi” dalam khasanah Barat berkaitan dengan konsep perspektif mandala ruang. Secara dinamis, kita bisa sebenarnya bisa memadukan konsep filsafat Barat ( misalnya  pemikiran Rudolf Stainer tentang antropometri atau psikologi Gestalt tentang ruang ) dengan konsep lokal. Perpaduan itu melahirkan integritas nilai2 lokal, dimana kita bisa menawarkan pada dunia. Peluang yang terbuka lebar era pasca modern sekarang.

Praktik seni masa ini masih terjebak dalam bingkai Barat pada pemikiran dan terminologinya. Nilai2 lokal tak jarang dinihilkan, bahkan dianggap terkebelakang. Padahal, muatan lokal sangat berharga di mata internasional. Di tengah ketidakberdayaan kita menajamkan nilai2 lokal, praktik seni rupa cenderung bersandar pada parameter pasar yang menentukan opini publik “mana karya bernilai” dan “mana yang tidak”. Situasi ini memiliki dimensi positif dan kelemahan. Parameter pasar tak jarang dipungut dari dunia maya, liputan pameran di media cetak, majalah, dsb. Jurnal seni rupa yang lebih komprehensif jarang dipakai. Jurnal “serius” tsb sempat muncul, namun kini tak terbit lagi.

Kelebihan seni rupa Indonesia

Sesungguhnya, karya2 seni rupa kontemporer kita bersaing di arena internasional. Dalam lingkup Asia, selain Cina dan India, Indonesia termasuk yang diunggulkan, dibicarakan dan sering menuai penghargaan. Bukti bahwa seni rupa kita memiliki kelebihan :

  • Seni rupa kita memiliki kekuatan estetik  yang diramu dengan muatan sosiobudaya dan politik sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dengan perjalanan sejarah nasional. Misalnya, epik Mahabarata, Ramayana, pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang seni budaya, sampai Persagi hingga Gerakan Seni Rupa Baru ( GSRB ).
  • Seni rupa Indonesia memiliki budaya lokal yang bukan memuja tradisi, tetapi cenderung kritis yang memperkaya dan membangun budaya lokal sebagai tradisi baru. Kritik berperan mendukung gerak pluralisme kebudayaan dunia ; mengapungkan terminologi seni kontemporer kita yang khas dan tidak tunduk pada konsepsi2 Barat.
  • Seni rupa kita cenderung eksploratif pada konsep seni dan budaya, lebih memandangnya sebagai “pengetahuan” ketimbang sains. Bekal kesadaran semacam ini penting untuk ditelaah lebih jauh.

Sensor dan moralitas agama

Seni rupa kita juga memiliki kekurangan. Pertama, terlampau sering penyensoran, terutama karya yang menyinggung moralitas keagamaan. Kedua, termarginalisasi oleh cara pandang seni rupa dunia. Situasi ini memposisikan kita sebagai “tokoh pinggiran” dalam percaturan seni rupa dunia. Ketiga, seni rupa kita kurang melakukan integritas dengan kebudayaan mancanegara.

Dalam pandangan Heri terkait keprofesian seni rupa kita. Pertama, etika yang berlaku cenderung didorong oleh etika pasar sehingga kekuatan pemikiran seni yang bisa menjadi ujung tombak diplomasi kebudayaan ke kancah dunia ditumpulkan oleh kita sendiri. Saatnya kini, kita terus berupaya menciptakan kekuatan yang digerakkan pelbagai keprofesian seni ; seniman, akademisi, kritikus, kurator, sejarawan seni, kolektor, art dealer, pemilik galeri, museum, dll, sebagai bagian dari medan sosial seni. Kekuatan itu membangun etika sehingga iklim yang kondusif dan sehat tercipta bagi pengembangan praktik dan wacana seni rupa kita. ( Heri Dono, seniman/ PR, 13/6/2010 ).

Written by Nanin

22/06/2010 at 04:03

Ditulis dalam wawasan seni rupa

Dikaitkatakan dengan

Lomba foto bertema “Bandung di Pagi Hari” ( tenggat 23 Juli 2010 )

leave a comment »

Logo lomba foto dalam menyambahut 200 tahun Kota Bandung. Saya pernah mengikutinya, dan termasuk 7 foto terbaik. Nggak nyangka. Anda ikut ?

Photography on the Move. Membaca perkembangan jantung kota Melalui Mata Fotografi adalah program edukasi fotografi berupa kompetisi foto bagi masyarakat umum yang diprakarsai oleh Harian Umum Pikiran Rakyat, Air Photography Communication, dan Jonas Photo. Khusus tahun 2010, kami memusatkan pada dokumentasi Kota Bandung sebagai bagian dari menyambut HUT ke-200 tahun Kota Bandung.

Para peserta yang mengikuti program ini tidak memperebutkan hadiah tertentu sehingga tidak ada pemenang ataupun juara pada kompetisi foto tersebut. Yang ada hanyalah tujuh karya foto terbaik yang akan dipilih dan dinilai oleh para kurator foto sesuai dengan tema yang ada. Ketujuh karya foto yang terpilih akan dimuat di pikiran rakyat pada rubrik khusus Foto Pekan ini. Masing2 peserta yang fotonya terpilih akan mendapatkan sertifikat atas partisipasinya. Program ini diselenggarakan setiap 2 bulan sekali.

Regulasi Photography on the Move XI :

  • Terbuka untuk masyarakat umum.
  • Tema : “Bandung di Pagi Hari”
  • Obyek foto yang diambil adalah berbagai objek dan tempat wisata yang ada di Kota Bandung.
  • Peserta bebas menggunakan kamera apa pun ( kamera SLR, kamera saku dan kamera handphone ).
  • Jumlah foto yang dikirimkan bebas dengan ukuran 5R atau melalui e-mail ke foto@pikiran-rakyat.com dan fotografibergerak@yahoo.com dengan sisi terpanjang 2.000 pixel dan save JPG 5.
  • Olah foto digital diperkenankan selama tidak menambah atau mengurangi isi foto.
  • Foto dikirimkan disertai versi softcopy file asli dalam CD ( low res. ) dan dimasukkan ke dalam satu amplop tertutup. Di balik foto ditulis keterangan : judul foto, deskripsi foto, nama, alamat, nomor telepon, dan e-mail.
  • Hak cipta karya foto merupakan milik fotografer/ pemotret. Panitia tidak berhak menggunakan foto2 yang terpilih ataupun yang masuk tanpa seizin fotografer/ pemotret yang bersangkutan, kecuali untuk keperluan Pameran Foto sehubungan dengan program ini.

Karya peserta yang dikirim ditujukan kepada :

  • Panitia Photography on the Move.
  • Redaksi Pikiran Rakyat.
  • Jl. Soekarno-Hatta no.147, Bandung 40223

atau,

  • Air Photography Communications
  • ( Padepokan Fotografi Bergerak )
  • Jl. Taman Pramuka no.181, Bandung 40114

Selambat-lambatnya Jumat, 23 Juli 2010

Para peserta yang fotonya terpilih akan mendapatkan merchandise Photography on the Move dan diberitahukan secara langsung melalui telpon dan e-mail. Tujuh karya foto yang terpilih akan dimuat di Pikiran Rakyat pada Foto Pekan Ini, Minggu, 25 Juli 2010.

Peserta tidak dipungut biaya.

Written by Nanin

12/05/2010 at 13:50

Ditulis dalam fotografi

Human and Architecture , menggandeng 5 komunitas foto. Kreatif !

leave a comment »

Suasana pameran foto yang unik. Ada tema ruang tamu, tengah, kamar tidur, dsb. Anggap saja rumah sendiri. Please help your self..

Arsitektur tak melulu berurusan dengan desain rumah atau yang berhubungan dengan bangunan. Hal tersebut ditunjukkan “Arsitektur Foto”, komunitas foto dari jurusan arsitektur Universitas Parahyangan ( Unpar ) melalui pameran foto yang bertajuk, “Human and Architecture”, yang memperlihatkan hubungan antara manusia dan arsitektur atau lingkungan tempat mereka berada. Kegiatan y ang merupakan rangkaian acara “Parahyangan Achitecture Parade 2010” itu, juga merupakan bagian dari “Bandung 200th Years Photo Fest” menyambut HUT ke-200 Kota Bandung.

Sebanyak 52 foto hasil kurasi sekitar 200 foto yang masuk, diperlihatkan kepada khalayak pada 14-20  April 2010 di Galeri Kita, dan 21-24  April 2010 di Wind Tunnel Unpar. Tak seperti pameran foto pada umumnya, mahasiswa yang hobi fotografi tsb mengajak 5 komunitas kreatif fotografi lainnya untuk turut berpameran. Sebuah kolaborasi yang cukup positif di mana komunitas yang terlibat di antaranya Komunitas Lubang Jarum Indonesia ( KLJI ), “Pocopoco”, “Brigadepoto#”, “Klastic” dan “Orders x tidakkuliah”.

Menurut Ketua Arsitektur Foto Anhariza, kolaborasi dengan komunitas lainnya tsb agar masyarakat bisa melihat arsitektur dari sudut pandang yang berbeda. Hal itu terlihat dari style yang berbeda di antara komunitas yang terlibat. “Brigadepoto#” dan “Orders x tidakkuliah” yang kuat akan photo story dan konsep seni fotografi, 3 komunitas lainnya kuat dari sisi medianya. Pocopoco para pemotret handphone, Klastic para pemakai kamera plastik, dan para pemotret lubang jarum yang menggunakan kamera bikinan sendiri.

Hasil akhir pun mereka rencanakan dalam sebuah konsep instalasi di mana setiap ruangan diibaratkan kamar dalam rumah. Seperti tema ruang depan, diisi meja dan kursi selain foto yang tertempel di dinding. Tema keluarga melalui kursi goyang, hingga tema kamar tidur yang sengaja digeletakkan kasur dan perlengkapan di kamar tidur di ruang pamer fotonya. Kehadiran kolaborasi komunitas kreatif di bidang fotografi ini setidaknya semakin mengukuhkan Kota Bandung sebagai kota kreatif. ( Dudi Sugandi, PR, 18/4/2010 ).

Written by Nanin

12/05/2010 at 13:34

Ditulis dalam fotografi

Dikaitkatakan dengan

Desa Cipacing : perajin benda seni, koperasi & ekspor ke mancanegara.

leave a comment »

Mewarnai didgeridoo, alat musik tradisional suku Aborigin, Australia. Siapa sangka bisa jadi lahan nafkah & peluang ekspor bagi warga desa Cipacing. Benda seni murah meriah di Bali sebagian dari sini.

Bagi sebagian orang, didgeridoo tentu terdengar asing. Bahkan mungkin banyak yang belum pernah melihat, apalagi mengenal alat musik tiup milik suku Aborigin ini. Namun, bagi sebagian warga Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, didgeridoo adalah tumpuan harapan mereka. Toni misalnya, ia sudah menekuni usaha pembuatan didgeridoo sejak 1996. Awalnya, hanya  memenuhi pesanan saudaranya yang berdomisili di Bali. Di luar dugaan, pesanan alat musik khas suku pribumi Australia itu terus mengalir. Ia pun memutuskan menekuni usaha ini dengan serius.

Hasilnya berbuah manis. Saat Indonesia dilanda krisis moneter, Toni justru sedang mengalami masa kejayaan.”Bahkan, sempat memproduksi 30.000 unit didgeridoo dalam satu tahun,”katanya. Awalnya Toni membuat didgeridoo secara manual. Sebuah pohon suren ia belah menjadi 2 bagian, kemudian dipahat. Batang yang sudah dibelah itu ia ikat lalu diberi perekat untuk menyatukannya. Baru tahun 2000, ia menggunakan mesin untuk mempercepat produksi. Kalau masih manual, dalam satu hari saya Cuma menyelesaikan 5 didgeridoo. Sekarang, dalam satu hari bisa 50 didgeridoo.

Sayang, berlipatnya hasil produksi tidak diimbangi dengan kenaikan omzet. Kian banyaknya perajin membuat persaingan makin ketat. Saat ini, setiap bulan ia hanya mendapat pesanan 500 didgeridoo atau 6000 unit per tahun untuk diekspor ke Australia melalui Bali. Bukan hanya volume penjualan yang merosot, ia pun terpaksa menurunkan harga jual dari Rp.90.000,- menjadi Rp.30.000,- per unit.  Yang mahal berkisar ratusan ribu rupiah. Perajinnya sudah banyak, tidak saja di Bandung. Yogyakarta dan kota2 lain juga sudah ada. Di Cipacing sendiri 6 perajin. Sekarang, omzetnya cuma Rp. 4 juta sebulan. Belum dipotong gaji pekerja, Rp.5000,- per unit didgeridoo.

Dengan kondisi ini, menurut dia, sulit mengembangkan usaha. Apalagi sektor permodalan masih menjadi kendala. Bantuan pemerintah untuk kredit usaha kecil yang selama ini digembar-gemborkan melalui media massa hanya sebatas melintas di telinga.”Saya berharap ada bantuan dari pemerintah. Tidak perlu langsung kucuran uang tunai, dengan didirikan koperasi di sini saja sudah membantu. Paling tidak saya bisa meminjam uang untuk tambahan modal dengan bunga ringan,” ujarnya. ( Rika Rachmawati, Guntur Kusuma Ardhy/ PR, 7/4/2010  )

Analisis :

Cipacing banyak memiliki potensi sumber daya manusia yang terampil membuat benda2 seni. Tak hanya benda seni tradisional lokal Jawa Barat atau provinsi di luar Jawa Barat, tetapi juga negara lain. Jajaran toko sepanjang jalan Cipacing, menjadi strategi pemasaran langsung kreativitas mereka. Meskipun omzet menurun terimbas berkurangnya kunjungan wisatawan luar negeri, perajin tetap berusaha mencari peluang ekspor melalui daerah lain seperti Bali.

Berperan sebagai produsen benda seni khas negara lain, Pak Toni memiliki keuntungan dengan adanya captive market yang sudah tersedia. Walau terbatas dalam segmentasi pasar ( yang menggunakan hanya komunitas tertentu ), mungkin Pak Toni bisa memperluas pangsa pasar, seperti membuat miniatur atau replika didgeridoo yang berfungsi sebagai pajangan.

Harapan Pak Toni akan adanya koperasi untuk mengatasi masalah umum perajin atau pengusaha kecil sekitar Cipacing bisa direalisasikan. Melebihi 20 orang ( perajin dan pengusaha ) sudah memungkinkan untuk membentuknya. Koperasi sejati mampu mengatasi permasalahan anggotanya, karena koperasi merupakan wahana kerjasama para anggotanya. Tujuan utama koperasi menyejahterakan anggotanya. Perhatian pemerintah terhadap koperasi dan usaha kecil menengah sangatlah besar, yang direalisasikan dalam berbagai program. Mari berkoperasi yang sejati. ( Ami Purnamawati, Kepala Pusat Pemberdayaan Perempuan LPPM-Ikopin ).

Written by Nanin

08/04/2010 at 11:54

Ditulis dalam Kerajinan, seni tradisi

Dikaitkatakan dengan , ,

Menjadi milyarder dengan Facebook & 175 juta penggemar.

leave a comment »

Mark Zuckerberg, 24 tahun, menjadi milyader setelah 5 tahun membuat Facebook yang dikunjungi 175 juta orang. “Negara” terbesar ke 6 dunia. Melebihi Jepang. Obama paling populer di situs jejaring sosial ini ( 6 juta penggemar ). Saya lihat Kamis kemarin ( 31/12/2009 ), di Indonesia, SBY terpopuler ( sekitar 1 juta orang ). Bibit dan Chandra ( pimpinan KPK ) didukung lebih dari 1,4 juta orang. Prita Mulyasari didukung facebookers, blogger, twitter sampai terbebas dari dakwaan pidana pencemaran nama baik dan terkumpul koin lebih 800 juta rupiah. Saykoji, rapper yang ngetop dengan lagu “On Line”, mengaku mempopulerkan diri dan mengupload lagu2 ciptaannya melalui Facebook-nya sejak September 2008. Aditya jadi penulis skenario dan bukunya laku keras setelah blog-nya “Kambing Jantan : Harian Pelajar Bodoh” diklik banyak orang. Fenomenal, ya, melihat apa yang bisa dicapai orang dengan dunia maya.

Kata Muradi, pengamat politik dan pertahanan ; dalam Facebook dan milis, ada praktek kebebasan berpendapat bagi mereka yang melek teknologi. Menurut Yasraf A.Piliang, cyberspace ( dunia maya ) adalah tempat orang menciptakan otoritas dan kekuasaan bagi dirinya yang tak diperoleh di dunia nyata. Bebas bicara, bebas mengkritik, bebas memberi informasi, bebas mengekspresikan ego individualnya, bebas bermain dalam grup fantasi dan drama kolektif. Bebas tanpa tekanan pemerintah. Batas yang tak seharusnya dilewati ( batas hasrat, fantasi, kesenangan, gairah ) menjadikan dunia maya berlebihan dan ekstrim. Kedalaman seseorang tidak menjadi ukuran penting dalam gerakan Facebook. Siapa saja bisa masuk grup.

Milis, ruang publik di dunia maya, lebih mendalam, karena punya aturan dan norma. Contohnya, milis jurnalisme. Ide gerakan seperti di Facebook ada di milis yang dikelola Farid Gaban, mantan wartawan Tempo dan Republika, dan Asep Saefullah. Milis ini sudah beranggotakan 3.731 orang. Lebih dalam, karena jawaban setuju atau tidak setuju harus ada argumentasinya. Komunikasi politik terkait aspek budaya politik ( sikap mental, sistem nilai, etika politik ) yang matang dan dewasa. Berbagai konflik vertikal, horizontal yang mewarnai masyarakat kita belakangan ini, menunjukkan budaya politik Indonesia belum matang. Cyberspace memang media demokrasi. Namun, seperti juga pisau, ia berguna bagi orang baik dan membahayakan bagi orang jahat. Cyberface bisa menjadi perusak demokrasi oleh kelompok yang belum dewasa budaya politiknya. Demokrasi oleh mereka ditafsirkan “apapun boleh” atau “kebebasan mutlak”. Padahal, yang diperlukan adalah budaya dialog untuk membangun demokrasi.

Pengirim komen bermuka badak di-blacklist saja.

Cyberspace adalah ruang maya yang bersifat artifisial. Ada ruang pribadi yang perlu password dan ruang publik yang bisa diakses siapapun. Dalam inbox, anda menerima pesan, ucapan selamat, cerita, gambar, resep, bahan kuliah, agenda rapat, kritik, saran, juga makian. Dalam outbox, anda merespon input2 tsb. Setelah setahun ber-blog ria, saya mendapati orang iseng, sinting, maniak juga predator di kotak komentar. Baru sekali komen sudah mengatur macam2. Sok akrab atau sok jago. Cirinya ; ia memberi komentar pada posting2 terbaru anda, terlebih yang memperlihatkan kebaikan atau kepemilikan ( kekayaan materi ) anda. Ia mengincar sesuatu dari anda.

Saran saya, anda jangan langsung menjawab di hari ia memberi komentar, atau buang ke trash ( tempat sampah/ black list ) saja. Karena jika anda langsung menjawab, ia akan bisa merilis komen dia tanpa moderasi anda pada waktu2 selanjutnya. Tahu2 nongol di halaman posting anda dengan kesopanan ( yang dibuat-buat ) dan pengulangan2 salam yang tak anda harapkan. Tanpa izin anda. Mengganggu. Tidak nyaman. Tapi, ia tidak peduli. Ia akan tetap nongol kapanpun dia suka ( dengan foto wajah yang ala kadarnya ) hingga terbentuk atmosfer yang mengintimidasi anda ( atau ia berharap anda lama2 jatuh kasihan sehingga bisa ia peralat ). Stereotip penyiksa/ penipu yang merasa dengan ngotot ia akan mendapat semua keinginan. Ia hanya memikirkan diri sendiri. Numpang beken. Datang tanpa diundang, meski sudah berkali-kali diberi sinyal anda tidak ingin menjadi temannya. Untuk2 orang2 bermuka badak ( tebal muka ) ini, hentikan saja sejak anda menangkap sinyal awal tak beres/ wajar tsb ( kurang kerjaan ). Kalau ia bertekad mengirim 100 komen, siapkan stamina untuk menghapus 1000 komennya. Itu jauh lebih baik daripada anda terjerat masuk ke pusarannya lebih dalam. Sebelum ia menyita waktu dan ketenangan hidup anda.

Ulah lainnya datang dari fan seorang figur yang terus memberi komen yang menjelek-jelekkan posting kita setelah kita tak sependapat dengannya. Benar yang dikatakan Yasraf, Muradi, Asep dan Agus Rakasiwi, siapa saja bisa masuk ke dunia maya. Yang dangkal, maupun yang dalam. Pengalaman saya, yang dangkal dan melihat fakta sepotong2 ( malas mikir ) jumlahnya lebih banyak. Kalau tidak pandai2 menyiasati, ocehan mereka bisa menghabiskan waktu kita. Gunakan seluruh fasilitas yang ada di penyedia blog dan situs anda untuk men-filter kehadiran mereka. Masukkan mereka ke daftar hitam ( kotak black list ). Anda tak perlu ocehannya.

Facebook sedang saya pelajari, awalnya dengan nama samaran. Dalam episode Oprah Show, pernah dibahas tentang pedofilia ( pencabul anak ) dan psikopat yang menggunakan situs jejaring sosial Friendster untuk menjerat mangsa. Karena begitu detailnya identitas pengguna dalam situs tsb sehingga para psikopat pedofilia terbangkitkan selera dan pikiran kejinya. Jumlah mereka puluhan juta, baru di Amerika saja. Jadi, mohon dimengerti jika saya tidak terlalu detail mengumbar identitas saya di dunia maya. Safety first. Namun, 175 juta pantas untuk dicoba. Be careful ..

Written by Nanin

17/03/2010 at 10:34

Ditulis dalam komunitas

Dikaitkatakan dengan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.