Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Posts Tagged ‘Bandung

Lomba foto bangunan bersejarah BI, tenggat 3 Sept 2010

leave a comment »

Gedung antik dengan gaya istana ( empirestyle ) di Jl.Asia Afrika 61, Bandung. Seneng foto2 bangunan kuno ? Ayo, ikutan lomba ( lagi ) ..

LOMBA FOTO HERITAGE BANGUNAN BERSEJARAH/CAGAR BUDAYA

Dalam rangka acara pencanangan pelestarian dan pemanfaatan heritage. Bank Indonesia, panitia menyelenggarakan Lomba Foto Heritage Bangunan Bersejarah/Cagar Budaya sebagai berikut:

1.     Tema foto : Pelestarian heritage refleksi kepedulian terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian serta pengelolaan heritage di Indonesia sudah mulai tumbuh dan berkembang dengan baik tiada terkecuali berupa bangunan-bangunan bersejarah/cagar budaya baik milik Bank Indonesia, Pemerintah maupun masyarakat yang tersebar di seluruh Nusantara.

Oleh karena itu, foto diharapkan dapat merefleksikan keanggunan karya bangunan bersejarah/cagar budaya yang adi luhur sebagai kekuatan pendorong untuk meniti ke masa depan. Lebih diapresiasi foto yang dapat menampilkan bangunan bersejarah/cagar budaya secara lengkap (bukan detail struktur) termasuk suasana yang melingkupinya, sehingga corak kekhasan terpancar dari karya bangunan tersebut.

2.     Hadiah :

a.     1 Pemenang Juara I sebesar Rp.10.000.000 (sepuluh juta Rupiah)

b.     1 Pemenang Juara II sebesar Rp.7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu Rupiah)

c.     1 Pemenang Juara III sebesar Rp.5.000.000 (lima juta Rupiah)

d.     3 Pemenang Juara Harapan masing-masing sebesar Rp.1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu Rupiah)

e.     5 pemenang Juara Foto Favorit pilihan pengunjung di Surabaya masing-masing sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta Rupiah)

3.     Dewan Juri :

–         Miranda S. Goeltom                    (Pemerhati heritage)

–         Arbain Rambey                            (wartawan senior Kompas)

–         Goenadi Haryanto                       (fotografer senior)

–         Oscar Motuloh                              (KBN Antara)

–         Widarmanto                                  (USF-IPEBI)

4.     Kriteria Lomba :

a.     Lomba terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya ( gratis)

b.     Obyek photo adalah heritage bangunan bersejarah/Cagar Budaya sebagaimana daftar terlampir. Obyek foto diharapkan tampak semaksimal mungkin dan pemotretan wajib dilakukan dalam tahun 2010.

c.     Setiap peserta dapat menyerahkan foto cetak warna atau hitam putih hasil karya sendiri maksimal 5 lembar foto dengan obyek foto yang berlainan, dengan ukuran cetak sisi terpanjang maksimal 30 cm beserta file hires atau negatif film. Foto belum pernah memenangkan berbagai kegiatan lomba foto sebelumnya.

d.     Pada sisi belakang setiap foto agar ditempelkan kertas dengan informasi sebagai berikut :

–          judul foto

–          lokasi

–          tanggal pemotretan

–          nama peserta dan nomor identitas (KTP/SIM)

–          nomor telp dan/atau HP

–          alamat email (jika ada)

e.     Olah digital sewajarnya diperbolehkan, namun bukan merupakan penggabungan foto dan/atau HDR (High Dynamic Range).

f.      Foto yang dikirimkan tidak diperkenankan mengandung unsur provokatif, pornografi dan SARA. Panitia berhak untuk mendiskualifikasikan foto yang dianggap mengandung unsur-unsur tersebut.

g.     Peserta bertanggung jawab terhadap adanya tuntutan pihak lain atas penggunaan fasilitas, lokasi, model, dan obyek lainnya dalam foto yang dikirimkan.

h.     Lembar foto berwarna/hitam putih beserta file highres diterima paling lambat tanggal 3 September 2010 pukul 13.00 WIB di sekretariat panitia dengan alamat :

Unit Khusus Museum Bank Indonesia

KOPERBI Gedung D Lantai 1

Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta Pusat 10350 Telp.021-3818731 Faks.021-3864935

Cantumkan tulisan ”LOMBA FOTO HERITAGE BANGUNAN SEJARAH/CAGAR BUDAYA” pada pojok kiri atas amplop pengiriman.

i.      Informasi lomba foto lebih lanjut, hubungi Sdr. Fadhil Nugroho HP.0818899150, Sdr. Adi Purwantoro Telp. 021.3818731, Sdr. Jefri Prihartanto / Sdri. Puji Astuti HP. 081389016787 hari Senin s.d. Jumat pukul 08.00 s.d. 15.30 WIB.

j.      Pemenang akan diumumkan pada acara Pencanangan Pelestarian dan Pemanfaatan Heritage Bank Indonesia di Surabaya tanggal 26 September 2010 dan di muat di website Bank Indonesia http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/ tanggal 27 September 2010.

k.     Hadiah sudah termasuk kompensasi atas penggunaan foto-foto pemenang apabila foto tersebut digunakan untuk kepentingan Bank Indonesia. Panitia memiliki hak publikasi foto pemenang untuk kegiatan pameran dan sosialisasi Bank Indonesia lainnya dengan mencantumkan sumber foto (hak cipta tetap pada fotografer). Dengan mengikuti lomba foto ini, peserta telah memahami dan menyetujui segala hak dan kewajibannya.

l.      Panitia tidak mengembalikan foto yang telah dikirimkan dan dilombakan.

m.    Pajak hadiah ditanggung oleh Bank Indonesia.

n.     Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

PANITIA LOMBA FOTO

Iklan

Written by Nanin

28/08/2010 at 11:41

Ditulis dalam Bangunan bersejarah, fotografi

Tagged with ,

Fenomena lukisan sebagai media terapi ( art therapy ) di rumah sakit.

leave a comment »

Wajah anak yang inosen memang menggemaskan. Tjutju Widjaja mengangkatnya sebagai tema karya-karyanya. Bisa menenangkan pasien dan keluarga yang terkena musibah. Ide brilian..

Kehidupan masyarakat perkotaan yang sering terkena stres berkepanjangan, tak lagi sekedar memerlukan ruang pengobatan  yang bersifat medis   kimiawi. Banyak yang mencoba terapi seni ( art therapy ). Salah satunya, Ny Giok ( 62 ). Perempuan ini tengah duduk di sudut ruang tunggu ICU Gedung Alkema RS Immanuel, Bandung. Meski suaminya sedang dirawat intensif di ruang ICU, ia mengaku menjadi lebih rileks saat melihat lukisan2 yang  terpampang di ruang tunggu.

Susi ( 35 ), penderita tifus mengaku lebih mendapat spirit melihat gambar2 tersebut,”Mungkin karena saya memang suka seni. Jadi, ketika melihat lukisan2 itu, senang sekali rasanya. Ada perasaan tenang, damai, dan tidak mau tergesa-gesa. Mungkin karena suasananya jadi berubah setelah ada lukisan,”ujarnya. Apa yang disampaikan para pasien itu tentu menjadi alasan mengapa para konseptor ( perancang ) gedung berlantai 8 itu merasa perlu menyimpan lukisan hampir di setiap dinding. Selain memberi warna pada dinding yang putih melompong, juga sebagai terapi penyembuhan.

Daripada dingin melompong, mending homy warna warni.

Anna, Kepala Bidang Keperawatan sekaligus Panitia Penataan Gedung Alkema RS Immanuel, Bandung, mengatakan, tujuan memajang lukisan di ruang perawatan adalah untuk memberi kesan baru terhadap rumah sakit agar tidak terlalu “dingin”, putih dan seram. Selain ingin memberi kesan homy agar suasana tegang saat proses pelayanan tak begitu terasa, namun lebih cair dan rileks.

Saat ini, sedang terjadi pergeseran desain tata ruang di sejumlah tempat pelayanan publik di Kota Bandung, khususnya beberapa rumah sakit yang sering terkesan menyeramkan. Pergeseran dari segi furniture dan aksesori yang mendukung, seperti memajang lukisan2, sebagai media terapi bagi pasien atau keluarga pasien yang sedang tertimpa musibah.

Tjutju Widjaja yang sengaja memajang karya lukisnya di rumah sakit, mengatakan, berpameran di rumah sakit dapat terlihat bagaimana fungsi lukisan terhadap kehidupan.”Kalau kita berpameran di tempat biasa, itu lumrah. Tetapi di tempat begini, semoga saya bisa memberi dorongan semangat terhadap kondisi psikologis orang yang sedang menderita. Siapa pun yang masuk rumah sakit kan sedang diuji,”ujarnya.

Narkoba disembuhkan dengan zikir dan seni.

Mengomentari fenomena yang berkembang di masyarakat ini, pelukis yang juga penyair, Acep Zamzam Noor mengatakan, seni memang bisa menjadi terapi bagi penyakit yang berhubungan dengan fisik atau kejiwaan. Semua jenis seni bisa menjadi terapi, tetapi tidak berlaku bagi semua orang. Seni akan efektif menjadi terapi kalau orang yang diterapi mempunyai ketertarikan, yang kemudian membuatnya terlibat dengan seni itu. Terapi dalam konteks ini adalah semacam mengalihkan perhatian sehingga orang yang diterapi tersebut merasa asyik dan masuk, yang kemudian melahirkan energi baru.

Acep membandingkan dengan terapi zikir bagi orang yang ketergantungan narkoba. Orang tersebut dibuat asyik dengan zikir sehingga lambat laun ketergantungannya beralih. Narkoba dan zikir sama2 bikin asyik masyuk dan membuat mabuk orang yang melakukannya.”Saya pikir seni pun fungsinya sebagai terapi tak jauh dengan itu,”ucapnya. Misalnya, seni lukis. Seni yang menggunakan media cat, aklirik, dll, banyak digunakan sebagai media terapi. Seni lukis seperti juga seni lainnya, mempunyai daya sedot yang membuat orang asyik masyuk. Keasyikan inilah, sebenarnya inti dari terapi. Jadi, kalau orang belum asyik dengan seni tertentu, tidak akan efektif sebagai terapi. ( Eriyanti/PR, 20/6/2010 ).

Written by Nanin

07/07/2010 at 21:34

Ditulis dalam Lukisan

Tagged with ,

Human and Architecture , menggandeng 5 komunitas foto. Kreatif !

leave a comment »

Suasana pameran foto yang unik. Ada tema ruang tamu, tengah, kamar tidur, dsb. Anggap saja rumah sendiri. Please help your self..

Arsitektur tak melulu berurusan dengan desain rumah atau yang berhubungan dengan bangunan. Hal tersebut ditunjukkan “Arsitektur Foto”, komunitas foto dari jurusan arsitektur Universitas Parahyangan ( Unpar ) melalui pameran foto yang bertajuk, “Human and Architecture”, yang memperlihatkan hubungan antara manusia dan arsitektur atau lingkungan tempat mereka berada. Kegiatan y ang merupakan rangkaian acara “Parahyangan Achitecture Parade 2010” itu, juga merupakan bagian dari “Bandung 200th Years Photo Fest” menyambut HUT ke-200 Kota Bandung.

Sebanyak 52 foto hasil kurasi sekitar 200 foto yang masuk, diperlihatkan kepada khalayak pada 14-20  April 2010 di Galeri Kita, dan 21-24  April 2010 di Wind Tunnel Unpar. Tak seperti pameran foto pada umumnya, mahasiswa yang hobi fotografi tsb mengajak 5 komunitas kreatif fotografi lainnya untuk turut berpameran. Sebuah kolaborasi yang cukup positif di mana komunitas yang terlibat di antaranya Komunitas Lubang Jarum Indonesia ( KLJI ), “Pocopoco”, “Brigadepoto#”, “Klastic” dan “Orders x tidakkuliah”.

Menurut Ketua Arsitektur Foto Anhariza, kolaborasi dengan komunitas lainnya tsb agar masyarakat bisa melihat arsitektur dari sudut pandang yang berbeda. Hal itu terlihat dari style yang berbeda di antara komunitas yang terlibat. “Brigadepoto#” dan “Orders x tidakkuliah” yang kuat akan photo story dan konsep seni fotografi, 3 komunitas lainnya kuat dari sisi medianya. Pocopoco para pemotret handphone, Klastic para pemakai kamera plastik, dan para pemotret lubang jarum yang menggunakan kamera bikinan sendiri.

Hasil akhir pun mereka rencanakan dalam sebuah konsep instalasi di mana setiap ruangan diibaratkan kamar dalam rumah. Seperti tema ruang depan, diisi meja dan kursi selain foto yang tertempel di dinding. Tema keluarga melalui kursi goyang, hingga tema kamar tidur yang sengaja digeletakkan kasur dan perlengkapan di kamar tidur di ruang pamer fotonya. Kehadiran kolaborasi komunitas kreatif di bidang fotografi ini setidaknya semakin mengukuhkan Kota Bandung sebagai kota kreatif. ( Dudi Sugandi, PR, 18/4/2010 ).

Written by Nanin

12/05/2010 at 13:34

Ditulis dalam fotografi

Tagged with

Fotografi menyambut 200 tahun Bandung. Siapkan kameramu.

leave a comment »

Bersiap memotret. Dengan kamera apapun, anda bisa memeriahkan HUT Bandung ke-200. Siapa tahu, karya anda mencuri perhatian. Who knows ?

Kota Bandung dikenal sebagai kota fotografi. Tak hanya karena keberadaan pehobi foto yang terbesar di Indonesia, di Bandung bermukim pula klub foto tertua Perhimpunan Amatir Foto ( PAF ) Bandung, yang tahun ini berusia 86 tahun. Selain itu, berbagai komunitas kreatif fotografi pun tumbuh dan berkembang di Kota Bandung. Saat ini, kegiatan fotografi tak hanya milik para penyuka foto saja. Berbagai lapisan masyarakat dan berbagai komunitas lainnya, banyak memanfaatkan fotografi sebagai penyampai pesan. Hal ini bisa dilihat dari kian banyaknya lomba foto serta aktivitas fotografi lainnya, yang digelar berbagai kalangan, seperti 3 lomba foto yang hasilnya diumumkan akhir tahun lalu. Tiga lomba foto tersebut adalah Bikers Brotherhood Photo Contest yang diselenggarakan Air Photography Communication dan klub sepeda motor Bikers Brotherhood, Indonesia 365 Photo Contest oleh Arsitektur Foto Universitas Parahyangan, dan Drugs & AIDS Care Society Photo Contest yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha.

Dalam rangka menyambut kota Bandung yang berumur 200 tahun pada 25 September 2010 mendatang, seluruh komunitas, jaringan dan individu fotografi akan menggelar kegiatan fotografi di Kota Bandung. Rangkaian kegiatan kreatif dan masyarakat fotografi yang akan berlangsung setahun ke depan ini, diharapkan memberi warna bagi peringatan 2 abad Kota Bandung. Dengan demikian, nama besar Bandung sebagai kota fotografi tak hanya pengakuan saja, tetapi dibuktikan dengan bersinerginya berbagai elemen fotografi dalam satu kegiatan bersama. ( Dudi Sugandi/ PR, 24/1/2010 )


Written by Nanin

03/02/2010 at 15:20

Ditulis dalam fotografi

Tagged with

Kartu : Masjid Kubah Payung, Gedung Merdeka, Stasion KA

with one comment

Written by Nanin

15/01/2010 at 14:43

Ditulis dalam Kartu

Tagged with ,

Klastic : komunitas fotografi yang kreatif dengan tustel plastik.

leave a comment »

Gedung LB. Antara, Jl. Braga, Bandung, hasil karya anggota Klastic. Tak kalah dengan dengan pengguna kamera canggih.

Klastic : singkatan dari Kaskus Plastic & Toy Camera Community. Berdiri 7 Desember 2008. Digagas orang2 yang intens berkomunikasi di situs Kaskus. Mengkristal menjadi komunitas penggemar fotografi. Regional Klastic Bandung, diketuai Donny Pandega ( hp : 08561072247 ), wakilnya Razky ( hp : 085710059649 ). Sekretariatnya di Jl. Kubang Selatan V no.3 Bandung. Jumlah anggota yang tercatat 100 orang lebih, yang aktif 40 orang. Mereka bertemu di Taman Ganesha Bandung 2 bulan sekali. Kegiatannya : hunting foto, kumpul2, ikut pameran, sharing fotografi di internet. Ke depan, Klastic ingin mengadakan pameran foto bersama, yang memajang foto2 karya anggota dan membahasnya, sehingga pembuat karya dapat menakar karyanya masing2. Klastic juga ingin memperluas jejaring dengan organisasi serupa, melebihi hubungan biasa yang terjalin selama ini.

Anggota Klastic ; 70 % adalah mahasiswa, sisanya karyawan dan pelajar yang berusia 16-40 tahunan, laki dan perempuan. Klastic juga terdapat di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Lampung, Padang, Kalimantan dan Banjarmasin. Keunikan komunitas ini dalam berkarya hanya menggunakan kamera berbahan dasar plastik ( tustel ). Kamera dengan sistem operasional sederhana ; memakai film, baterai dan cuci cetak foto. Yang penting di Klastic adalah bagaimana orang menggunakan kamera standar ini menjadi karya berkualitas. Benar2 menggali kreativitas. Eksperimental. Kekurangan harus menjadi kelebihan. Meski kamera yang digunakan adalah tustel biasa, bahkan mainan, anggota Klastic tidak pernah minder. Mereka terbiasa ikut hunting bersama pemotret2 lain dari komunitas kamera canggih. Anggota Klastic selalu percaya diri mengikuti lomba secara terbuka. Bahkan memenangi ajang lomba foto yang diikuti peserta kamera canggih, seperti anggota Klastic dari Yogyakarta.

Here they are, ladies & gentlemen... members of Klastic in their first hunting. Cute, isn't ?

Klastic punya tradisi kritik karya di dunia maya. Anggota mengirim hasil jepretannya ke pengelola web, lalu dipublikasikan ke anggota komunitas. Pemotret memaparkan karyanya dalam tulisan, jenis kamera yang digunakan, lokasi dan waktu pemotretan, judul, proses cuci cetak film, sampai menjadi karya. Dari paparan ini publik menjadi proses2 yang dilakukan dan belajar dari pengalaman orang lain. Bagi anggota Klastic, kecacatan kamera no problem, asal masih bisa dioperasikan dan digunakan. Kalau pun tidak, hampir semua anggota Klastic Regional Bandung tahu tempat2 reparasi kamera yang andal. Di Jalan ABC, Bandung, berjejer dokter2 kamera manual ( tustel ) yang dapat menyembuhkan segala masalah handset kamera. Anda pun bisa mencoba segala jenis kamera dan pernak perniknya, termasuk lensa. Hanya, pandai2-lah memilih dokter reparasi kamera yang andal. Atau anda bergabung ke Klastic untuk tahu jurus2-nya. Di komunitas ini, anda bisa belajar mencuci cetak foto dengan air deterjen, kopi, teh atau bir. Menggores film atau menyelotip kamera untuk memberi efek karakter pada foto. Mini dengan hasil maksi.

Tidak ada istilah kamera rusak. Untuk cuci cetak dan peralatan, anggota Klastic mempercayakan pada studio foto di Jl.Wastukancana, Bandung, di mana semua eksperimen gila mereka diolah menjadi foto. Sharing pengalaman antara pemotret yang memproses fotonya di situ dan pengelola studio acap kali terjadi. Ada pula, anggota Klastic yang kerap ke luar negeri untuk membawa segala kebutuhan fotografi ; kamera, film dan piranti lainnya. Ada beberapa jenis kamera yang filmnya terbilang langka dijual di Indonesia, sehingga perlu berbagi informasi di internet. Di even “Braga Festival” tahun 2009 kemarin, Eriyanti bertemu komunitas Klastic yang berpameran di Gedung YPK, Jl. Naripan. Anda akan terkagum-kagum melihat film hitam putih dan warna yang mereka tampilkan dengan karakter berbeda. Foto berbicara dan merebut perhatian pengunjung.

Written by Nanin

05/01/2010 at 15:52

Ditulis dalam komunitas

Tagged with ,

Braga Festival 2009

with 2 comments

Braga Festival 2009, bertempat di sepanjang Jalan Braga, Bandung. Dari 27-30 Desember 2009, jam 10.00-22.00. Wilujeng sumping.

Ada musik di depan prapatan Braga-Naripan ; Doel Sumbang, Mat Bitel, Tatalu Percussion, Caraka Sundanologi, Jazzmine Band, dll.

Stand BMC. Minum susu, satu dari sekian kulinari yang tersedia, setelah cuci mata di Braga.

Hasil karya pematung yang berpartisipasi. Selain demo pematung & demo pelukis, di sana digelar pula tari Bagong Kusudiardjo, Angklung Buncis, Gondang Cireundeu, Reog Ponorogo, dll. Don't miss it.

gambarlukis_wordpress_larasita

Bahkan mobil Larasita pun ada. Anda ingin mengurus problem sertifikat tanah/ rumah anda ? Di sana pun bisa.

Written by Nanin

29/12/2009 at 11:08