Gambar Lukis

gambar, lukis, nulis, foto ..

Posts Tagged ‘Perancis

Salim : setia dalam pengabdian seni.

leave a comment »

Salim, pelukis yang ulet, tekun dan tangguh. Karyanya dikenal dengan warna2 yang cemerlang, bentuk yang mudah ditebak dan stilasi yang menyenangkan. Surga hijau di belahan tropis. AD.Pirous pernah dibuat terengah oleh ayunan langkah Salim yang panjang dan cepat. Ia bilang pelukis besar Fernand Leger adalah pejalan kaki andal yang bermotto “berjalan kaki selalu sebuah seni yang besar”.

Salim mengajak kita untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup itu sendiri. Salim bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, dan terbiasa dengan ruang luas yang bebas, mencipta dengan nalar terbuka. Pikiran2 itu divisualisasikan Salim dalam karyanya yang dibuat sejak tahun 1957.

Lukisan2 itu masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Warna yang redup, mantap dan kecoklatan. Garis lirisnya sangat efektif ketika melukis ruang arsitektur yang vertikal. Lukisan gereja atau mesjid yang dibuatnya terasa damai dan religius. Agak beda dari lukisan2 cemerlang, hangat nan ceria, di pameran Balai Budaya tahun 1957.

Pameran seni rupa retrospektif selalu menarik, meski tak selalu menyajikan gebrakan spektakuler. Ada segi yang membuat kita merenung, menapaki jalan panjang seorang seniman. Salim adalah pelukis senior Indonesia yang kini telah tiada. Karya2nya, menunjukkan kesetiaan dan pengabdian seni yang tak terputus. Pameran karya Salim mencitrakan kesenian yang utuh bagi generasi muda.

Iklan

Written by Nanin

11/12/2009 at 14:57

Ditulis dalam Pelukis

Tagged with ,

Simone de Beauvoir.

leave a comment »

Novelis, esais, filsuf dan feminis ini studi filsafat di Sorbone University. Setelah lulus, menjadi profesor di sana, juga mengajar di Marseilles, Paris. Menulis baginya, memerlukan daya intelektualitas, paham soal manusia dan rajin menggali makna kehidupan. Simone sering traveling ke Eropa, Amerika, Jepang dan Cina. Setelah tak mengajar, ia menulis mulai pukul 10 sampai 1 siang. Setelah minum teh pagi hari, Simone membaca koran dan majalah yang dianggapnya penting. Antara 13.00-17.00, Simone keluar rumah, mengunjungi teman2 atau shopping. Kembali menulis pukul 17.00-21.00.

Memoar ia tulis hampir 7 tahun. Menulis kadang untuk kenikmatan, diresapi, perlu waktu. Jika menulis non fiksi, Simone membaca dulu bahan2 yang akan ditulisnya, sehari sebelum menulis. Hal sulit ia diskusikan dengan teman2, khususnya sahabat. Dalam setahun, 9 bulan digunakan untuk menulis, 3 bulan mengumpulkan bahan. Selama traveling, Simone membuat catatan penting, membaca materi yang ringan2. Tidak menulis. Penerbit umumnya tidak melihat mutu suatu naskah, hanya melihat pasar. Lain halnya bagi Simone, berkarya itu penting, soal diterbitkan itu dipikirkan kemudian.

Written by Nanin

11/12/2009 at 13:49

Ditulis dalam penulis

Tagged with